Medan-persatuannews.com.Tulisan Jendela Fajar pagi tadi telah dibaca masing-masing pribadi group Warung Kopi Wak Dollah. Kiriman tulisan WA group tersebut sore ini dibawa ke meja Warung Kopi Wak Dollah. Biasanya narasinya jadi diskusi dinamis, khas obrolan akar rumput yang penuh “reaksi kimia” yang unik dan penuh humor.
Yok kita intip bagaimana kira-kira jalannya obrolan sore itu setelah mereka membaca tulisan Jendela Fajar yang dikirim pagi tadi.
Pak Dermawan, sambil membenarkan letak kacamata bacanya, mengangguk-angguk takzim,”Subhanallah, tulisannya menyejukkan hati. Zaman sekarang ini memang penat kita lihat media sosial. Isinya kalau bukan hoaks, ya saling sindir. Kita ini memang kurang tabayyun. Kalau kata tulisan ini, kita harus saling tolong-menolong dalam kebajikan, bukan memelihara permusuhan. Betul kan, Dang?,” ujar Pak Darmawan.
Dadang yang menyilangkan kaki sambil menyeruput kopi hitamnya yang tinggal setengah, dahinya berkerut, “Ah, Pak Dermawan…, teori itu memang indah seindah pelangi sore hari”.
“Tapi masalahnya, perut lapar ini susah diajak tabayyun, Pak! Gimana mau solutif kalau, BBM antri mengular di SPBU, harga beras merambat naik, gas melon langka, ditambah lagi pajak akan dinaikan. Kalau kita diam aja, dibilang setuju. Menurutku, sekali-sekali ‘provokatif’ itu perlu sebagai alarm biar yang di sana itu, mereka yang diberi amanah mengurusi umat terjaga juga, bukan malah bersorak ria menikmati penderitaan umat!”
Arief si anak muda Gen Z, jempolnya masih lincah men-scroll layar HP, langsung menyambar,
“Wah, pas banget ini! Di tulisan Jendela Fajar kan ada kutipan riset Deloitte 2025. Gen Z itu sebenarnya butuh makna dan mentor, bukan cuma disuruh-suruh atau kriitik doang”, sebut Arief.
“Nah, daripada Bang Dadang cuma ngedumel provokatif di medsos yang ujung-ujungnya cuma nambah engagement algoritma orang lain, mending kita bikin gerakan solutif. Gimana kalau warkop Wak Dollah ini kita pasang kode QR untuk donasi jelang Jumat Berkah? Itu baru solutif dan taktis!”
Baca juga :
- Secangkir Kopi Pahit Hangat
- Hari Lingkungan Hidup 2026 : KIH Sumut dan PLN Tanam 250 Pohon di Belawan Lawan Triple Plenatary Crisis
- Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
- Zakat, Wakaf, Infak, Sedekah Dan Ekonomi Syariah Memberi Keadilan Sosial Kepada Umat
Narto yang mantan aktivis lokal, langsung menggebrak meja pelan sambil tertawa sinis, “Halah, Rief, gayamu pakai QR-QR segala. Tapi omongan Dadang tadi ada benarnya juga. Batasan antara ‘kritis’ dan ‘provokatif’ itu sekarang tipis kali kayak kulit bawang. Begitu kita kritik kebijakan yang timpang, langsung dicap provokator. Padahal kita cuma menyuarakan keadilan. Jangan sampai slogan ‘solutif’ ini malah dipakai buat membungkam orang-orang yang vokal!”
Mbak Lastri yang mendengar perbincangan itu gak mau ketinggalan, sambil mengantar sepiring pisang goreng hangat yang baru diangkat dari penggorengan, “Hadeeeh… bapak-bapak, mas-mas, kalau sore-sore sudah bahas negara sama akidah, tensi langsung naik tuh..”.
“Nih, solusinya nyata dari saya, pisang goreng hangat! Ini namanya tindakan solutif paling konkret untuk meredakan tensi warkop yang mulai provokatif.” ujarnya tertawa renyah. “Lagipula, narasi di Jendela Fajar tadi, ‘sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat’. Nah, pisang goreng ini sangat bermanfaat untuk lambung kalian yang lagi bunyi kriuk-kriuk minta di charge?,” ujar Lastri bersemangat.
Wak Dollah, dari balik meja kasir, ikutan berteriak, “betul kata Mbak Lastri! Dan solusi paling akhir yang paling saya tunggu dari kalian adalah, membayar tagihan kopi masing-masing sebelum pulang, bukan malah memprovokasi saya untuk berutang lagi! Setuju?”
Semua yang ada di warkop pun tertawa serentak, lalu berebut mengambil pisang goreng hangat Mbak Lastri.
- Penulis: Tauhid Ichyar, Pemerhati Lingkungan Sosial Masyarakat





