Medan-persatuannews.com. Alkisah setelah kematian sang Kyai panutan, di malam ke 40 para santri berinisiatif untuk mendoakan sang Kyai, dalam tirakatan salah seorang santri dapat berdialog dengan sang Kyai. Santri tersebut menanyakan kondisi di alam kubur, lalu di jawab oleh sang Kyai alhamdulillah saya baik-baik saja semua amalan saya insya Allah diterima oleh Allah Sang Gusti. Para santri merasa terharu dan bangga atas dedikasi guru mereka, namun ada sedikit yang mengganjal di hati, muridnya bertanya apa kira-kira yang mengganjal di hati Kyai?.
Kemudian sang Kyai menyampaikan ingat gak kalian sewaktu kita pulang kenduri di rumah si Fulan? Para santri menjawab serentak, ingat Kyai. Waktu pulang saya mematahkan ranting pagar salah seorang warga sebagai tusuk gigi membersihkan slilit (sisa makanan) yang menempel di sela-sela gigi ku.
Sebelum kematianku, aku belum sempat minta izin kepada yang punya rumah apakah Allah mengampuni dosa ku karena ranting pagar yang ku patahkan ujar Kyai dengan masygul. Para santri semua merasa sedih, tidak dapat dibayangkan kalau tusuk gigi tersebut sebesar tiang listrik, atau glondongan yang berserakan di Aceh, Sumut, dan Sumatera Barat. Menarik kita simak puisi karya Prof. Fathul Wahid Rektor UII Yogyakarta:
Tetaplah Bodoh. Tetaplah bodoh, kawan, jika pintar menuntut kita percaya bahwa kayu glondongan memang tumbang sendiri, kebetulan saja sebagian diberi nomor agar tak tersesat pulang.
Tetaplah bodoh, kawan, jika pintar mengharuskan kita sepakat bahwa sawit juga pohon karena punya daun hijau, cukup untuk mengganti nama hutan, meski akarnya tak lagi sudi menahan air.
Tetaplah bodoh, kawan
jika pintar berarti curiga pada suara kritis, dianggap menggiring opini, menganggap pemerintah tidak bekerja sempurna, dan empati harus menunggu siaran media.
Tetaplah bodoh, kawan, jika pintar mengajar kan bahwa bantuan asing yang tak seberapa itu berbahaya, bisa meruntuhkan martabat bangsa yang konon berdiri tegak-tanpa bantuan siapa-siapa.
Baca juga :
- Sosialisasi 4 Pilar Bersama Guru, Senator M Nuh Tekankan Pentingnya Literasi dan Mitigasi Bencana di Sekolah
- PERSIS PEDULI Gerakkan Bantuan dan Penggalangan Dana Bencana Sumatera dan Aceh
- Persis Sumut Berbagi Sembago di beberapa Desa Terdampak Banjir
Tetaplah bodoh, kawan, jika pintar berarti setuju cukup menteri memanggul karung bantuan, sementara empati dianggap bonus, tak wajib apalagi tulus.
Tetaplah bodoh, kawan, jika pintar menuntut kita percaya bahwa ribuan korban hanyalah angka, terlalu kecil untuk disebut bencana nasional, hanya cukup jadi catatan kaki laporan tahunan.
Tetaplah bodoh, kawan, jika pintar menganggap alih hutan ke sawit adalah keniscayaan, dan banjir selalu bisa kita titipkan pada takdir_ agar tangan manusia tetap tampak tak ternoda
Mari, tetap bodoh, kawan. Sebab di negeri ini, terlalu sering, yang disebut pintar justru adalah kelihaian melawan akal sehat, menyembunyikan fakta dan memperdaya sesama.
Puisi ini bertema kritik sosial politik melalui sarkasme terhadap “kepintaran” palsu. Fathul Wahid menggunakan kata “bodoh” secara ironis, sindiran bahwa “pintar” di negeri ini berarti setuju dengan manipulasi fakta.
Sejatinya pemimpin adalah Pelayan umat, masyarakat, dan warga dalam arti sesungguhnya. Karena itu pulalah, terasa janggal, ketika ada pejabat yang begitu nelangsa, dan gelisah karena hanya persoalan baut jembatan, sekali lagi baut jembatan yang membuat gusar salah seorang petinggi negeri ini, bagaimana pulak dengan kayu gelondongan yang bernomor, yang menghancurkan rumah, persawahan, kebun rakyat, jalan, jembatan, ternak, dan nyawa manusia?.
Walahh alam bishawab.
Penulis: Abdul Aziz
Penasehat PW. Persatuan Islam (Persis) Sumatera Utara
