Kondisi Geopolitik dan Masa Depan Dakwah: Wawancara Eksklusif bersama Ketua Umum PP Persis Ust. Dr. H. Jeje Zaenudin dengan Abdul Aziz, Anggota Dewan Tafkir PP Persis

Dunia hari ini kembali menyaksikan panggung peperangan yang mengguncang stabilitas global. Eskalasi antara AS bersama sekutunya, Israel, melawan Iran telah mencapai titik krusial.

Jakarta-persatuannews.com. Shalawat dan tahmid kita haturkan kepada Qudwah, tauladan, manusia Agung Rasulullah SAW, rahmat bagi alam semesta.

Siang itu saya mendapatkan kesempatan wawancara lewat WA dengan Dr. K.H. Jeje Zaenudin, M.Ag, seorang cendekiawan Islam  yang menjabat sebagai Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP Persis). Beliau juga Ulama low Profile yang Visioner.

Abdul Aziz (AA) : Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Ustad Jeje. Bagaimana kabar Ust. Jeje? Kami doakan semoga dalam keadaan sehat dan terus istiqamah dalam pembinaan umat.

Ust. Jeje Zainuddin : Waalaikumsalam Pak Aziz, Alhamdulillah sehat. Kegiatan masih terus berjalan. Saya masih tetap mengajar, berdakwah, dan berkegiatan di Persis sebagai Ketua Umum hingga Muktamar 2027. Kegiatan lainya sebagai Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia ( MUI)
serta mengelola pesantren.

AA: Ustadz, memasuki medio Mei 2026 kita melihat eskalasi politik di Kawasan Teluk semakin memanas. Tensi antara Amerika Serikat dan sekutunya, Israel, dengan Iran semakin krusial. Bagaimana pandangan Persis?

UJZ: Dunia hari ini kembali menyaksikan panggung peperangan yang mengguncang stabilitas global. Eskalasi antara AS bersama sekutunya, Israel, melawan Iran telah mencapai titik krusial.
Ini bukan sekadar insiden militer biasa. Peristiwa ini menewaskan tokoh-tokoh kunci dalam struktur pertahanan Iran, termasuk pimpinan Garda Revolusi.

Hal ini tentunya memantik perdebatan di tengah umat Islam Indonesia, khususnya di Persatuan Islam: di mana seharusnya posisi kita? Apakah kita membela Iran karena mereka sesama Muslim yang dizalimi?

Abdul Aziz, ST. Anggota Dewan Tafkir PP Persatuan Islam (PERSIS)
Abdul Aziz, ST Anggota Dewan Tafkir PP Persatuan Islam (PERSIS)

AA: Adakah pertimbangan lebih jauh mengenai dampak ideologis dan geopolitik yang menyertainya?

UJZ: Dalam merespons ini, kita harus berpijak pada metode berpikir yang lurus sesuai panduan Al-Qur’an dan Sunnah. Prinsip utamanya adalah “I’dilu huwa aqrabu lit-taqwa” – berlaku adillah karena keadilan itu lebih dekat kepada takwa. Al-Qur’an mengajarkan kita menjadi saksi penegak keadilan yang objektif. Dalam Al-Qur’an Surah Al Maidah ayat 8 menyebutkan:

Janganlah kebencian kepada suatu kaum membuat kita berlaku tidak adil, dan jangan pula kecintaan berlebihan menutup kita dari kebenaran.Secara faktual politik, tidak ada alasan yang membenarkan tindakan AS dan Israel dalam serangan ini. Merekalah pihak yang paling patut dipersalahkan. Kami mengecam keras kekejaman tersebut dan menyampaikan empati mendalam kepada rakyat Iran sebagai pihak yang dizalimi.

AA : Bagaimana kita seharusnya memandang persoalan ini secara utuh

UJZ: Kita dituntut menelisik peristiwa ini melalui kacamata sejarah. Al-Qur’an merekam peristiwa besar di awal kenabian Muhammad SAW, yakni pertempuran antara Kekaisaran Romawi Timur dan Persia, dalam Surah Ar-Rum.
Meskipun umat Islam saat itu tidak terlibat langsung, dakwah Islam sangat terdampak disebabkan konstelasi geopolitik yang dihasilkan.

Saat itu, kaum Mukminin merasa lebih dekat secara spiritual dengan Romawi karena mereka bangsa Romawi dikenal dengan sebutan Ahlul Kitab, sementara Persia adalah bangsa Majusi, penyembah api. Kemenangan Romawi dimanfaatkan oleh Rasulullah SAW untuk mengirim surat kepada Kaisar Heraklius.

Meskipun Heraklius tidak memeluk Islam, tetapi memperlakukan utusan dan surat Rasulullah dengan penuh hormat. Sementara ketika surat dakwah Rasulullah dikirim kepada Kisra Persia, ia menerimanya dengan angkuh, menghina utusan dan merobek robek surat Nabi.

AA : Bagaimana dengan Iran yang berideologi Syiah, berbeda dengan akidah Sunni?

UJZ : Di sinilah kita ditantang menggunakan Fikih Muwazanah – fikih pertimbangan antara maslahat dan mudarat yang lebih besar bagi dunia Islam. Bila peperangan ini berakhir dengan kemenangan Iran, akan terjadi pergeseran supremasi militer dan politik di kawasan.

Hal ini dikhawatirkan membangkitkan ambisi Imperium Persia lama atau menjadikan Madzhab Syiah mendominasi kawasan kawasan Timur Tengah melalui proksi-proksi yang telah ada dalam negeri-negeri Sunni seperti Saudi, Kuwait, dan Emirat sebagaimana yang telah terjadi di Lebanon, Suriah, dan Yaman.

AA : Apa kira-kira dampak kemenangan Iran bagi dakwah Sunni?

UJZ : Secara ideologis, dampaknya bisa menjadi beban berat bagi negeri-nengeri Suni. Pengalaman tahun 1979, euforia Revolusi Iran berdampak global, termasuk ke Indonesia. Banyak anak muda mengagumi simbol revolusi Iran tanpa memahami perbedaan teologis di dalamnya.

Jika Syiah semakin kuat secara militer dan ekonomi, potensi gesekan sosial di negeri-negeri Sunni akan meningkat. Selain itu, kontrol Iran atas Selat Hormuz dapat mengganggu stabilitas energi dunia dan memicu krisis ekonomi global. Padahal dakwah membutuhkan instrumen ekonomi yang stabil, ungkap Ust Jeje.

Baca juga :

  1. Pesan KH Jeje Zaenudin di Muktamar XIV: Saatnya Pemuda PERSIS Tampil di Panggung Peradaban Dunia
  2. Transformasi Gerakan Jam’iyah: Sebuah Keniscayaan
  3. Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
  4. Dahsyatnya Pusaran Agin Puting Beliung dan Siklon Tropis

Sebaliknya, jika kemenangan di pihak AS, negeri-negeri Muslim Sunni di Timur Tengah mungkin merasa lebih aman karena aliansi strategis dengan Barat. Namun, kita tidak boleh menutup mata bahwa AS dan Israel dua negara yang sering bertindak jahat dan semena-mena sebagai “polisi dunia” yang menindas kedaulatan bangsa-bangsa lain.

AA : Jadi, bagaimana sikap Persis?

UJZ : Inilah dilema nyata. Di satu sisi kita bersimpati kepada yang dizalimi, yaitu Iran, tetapi kita tidak bisa mengabaikan peran dan dukungan Iran atas rezim-rezim yang biadab dan kejam di Irak, Suriah, dan Yaman dalam pembantaian kaum muslimin dan ulama sunni di sana. Di lain pihak, kita juga tidak mungkin membiarkan Palestina terus dijajah Israel dengan dukungan Amerika.

Karena itu, kita harus mengambil standing position. Tidak menjadi penonton yang bingung, tetapi menjadi umat yang bersiap siaga. Kami menyerukan negeri-negeri Sunni, khususnya di Teluk dan Timur Tengah, agar bersatu dan mandiri membangun kekuatan bersama blok Islam. Tidak menjadi bagian dari Blok Barat maupun Timur.

Persatuan Islam tidak mungkin dicapai dengan cara menyatukan seluruh dunia dalam satu mazhab yang sama, karena perbedaan madzhab merupakan sunnatullah.Yang mungkin adalah menyatukan dunia Islam dalam satu misi besar yang sama: yaitu membangun peradaban dunia yang adil berdasarkan Islam.

Persatuan hanya bisa tercapai jika masing-masing menghormati koridor bersama dan tidak mengekspor ideologi ke wilayah lain. Jika Iran terus memiliki misi ekspansi ke negeri-negeri Sunni, perdamaian hanyalah angan-angan.
Kita harus menjaga rumah kita dari konflik sektarian seperti di Suriah dan Yaman.

AA : Apa pelajaran berharga yang dapat dipetik?

AJZ : Pelajarannya jelas: umat Islam harus mandiri dalam segala aspek, terutama secara ekonomi dan militer serta kuat dalam literasi politik global. Apa yang terjadi di belahan bumi sana pasti memiliki butterfly effect ke Indonesia.
Kita harus siap menghadapi krisis ekonomi global akibat perang, karena dakwah tidak akan eksis tanpa kemandirian finansial.

Mari terus bergerak dengan semangat 1923, tahun berdirinya Ormas Persatuan Islam (Persis) , untuk berkontribusi bagi umat dan bangsa Indonesia yang sangat kita cintai, semoga negeri ini dilimpahi Rahmat dan Inayah Allah SWT.
Wallahu a’lam

Demikian wawancara kami dengan Ust. Dr. H. Jeje Zaenudin, M. Ag Ahad (24 /5/’26).

Pewarta: M.Ash-Shiddiqi
Editor: Adi Syahputra Nst

Persatuan News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *