Qurban Dengan Momentum Peduli

Idul Adha tahun ini, sekat-sekat sosial harus diruntuhkan, si kaya diajarkan untuk menyembelih sifat bakhilnya yang terselubung. Si miskin bisa tersenyum lebar menikmati daging qurban terbaik tanpa harus merasa minder.

Medan-persatuannews.com.Setiap tahun, dibulan Dzulhijjah hadir membawa kisah klasik yang tak pernah usang dimakan zaman. Di balik gema takbir dan antrean kupon daging qurban bukan sekadar ritual tumpahan darah, bukan pula ajang pamer hewan ternak di media sosial “Alhamdulillah, tahun ini bisa qurban dengan tabungan sendiri.”

Allah ﷻ berfirman :

لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ ۝٣٧

Artinya : Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang muhsin. (QS Al-Hajj 22:37)

Sebelihan hewan qurban hanyalah sebuah simbol, simbol ketaatan seorang hamba atas perintah Allah. Sesungguhnya yang sedang di “sembelih” adalah sifat ego, keangkuhan diri, takabur, pamer harta dan sifat kikir yang sering kali bersarang di dalam dada.

Firman Allah ﷻ :

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَا لَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْۤ اَرٰى فِى الْمَنَا مِ اَنِّيْۤ اَذْبَحُكَ فَا نْظُرْ مَا ذَا تَرٰى ۗ قَا لَ يٰۤاَ بَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِيْۤ اِنْ شَآءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

Artinya : “Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QS. As-Saffat 37: 102)

Ba’da Ashar, dipojokan halaman belakang masjid, berdiri Wak Udin, seorang buruh harian lepas yang menabung tiga tahun demi sepertujuh bagian sapi. Berdiri disebelahnya  haji Jaili,  laki-laki paro baya, seorang saudagar kaya beli sapi metal ukuran besar, tapi agak pelit bagai rentenir pasar.

Haji Jaili berpeci Turki, berkacak pinggang. “Nih, Wak Udin! lihat ni, sapi Limosin pilihanku. Kekar, tinggi, harganya setara motor matic baru! Biar nanti pas keliling kampung, orang-orang tahu siapa bosnya”, ujar Haji Jaili. “kalau punya Wak Udin…, yang mana?, kok dari tadi saya cari-cari di barisan sapi premium tidak ada?” sebut Haji Jaili lagi.

Dengan tersenyum ramah, Wak Udin yang sedang asyik memberi makan rumput menjawab, “Alhamdulillah, pak haji, sapi saya yang di pojokan itu. Yang badannya agak minimalis, tipe-tipe minimalis modern-lah. Patungan bertujuh sama warga lain.” jawab Wak Udin sekenanya.

“Aduh, Wak Udin…, gimana sih, tiga tahun nabung cuma dapat porsi sapi diet gitu? Rugi, Pak! Kalau saya prinsipnya high investment, high return. Saya sudah bilang ke ketua panitia, karena sapi saya paling besar, nanti jatah paha belakang, kepala, sama jeroannya harus diantar ke rumah”, ujar Haji Jaili semangat.

“saya mau bakar-bakar pakai kare kambing, buat kolega bisnis. Kan lumayan, modal qurban tapi dapat konsumsi silaturahmi gratis!”, sambungnya.

Wak Udin terkekeh pelan, “Astaghfirullah, pak haji…., itu qurban atau sistem cashback pak haji?, kalau saya mah, jangankan mikir paha belakang. Begitu nama saya disebut panitia pas penyembelihan, lutut saya sudah gemetaran. Takut niat di hati ini malah belok jadi pengen dipuji orang,” jawab Wak Udin melirik haji Jaili.

“Lho Wak Udin, kita harus realistis, biar hemat yang penting kan tetap berqurban. Namanya juga strategi ekonomi syariah personal!”

Baca juga :

  1. Pesan KH Jeje Zaenudin di Muktamar XIV: Saatnya Pemuda PERSIS Tampil di Panggung Peradaban Dunia
  2. Transformasi Gerakan Jam’iyah: Sebuah Keniscayaan
  3. Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
  4. Dahsyatnya Pusaran Agin Puting Beliung dan Siklon Tropis

Wak Udin menepuk pundak Pak haji Jaili sambil tersenyum geli, “Pak haji, pak haji…,setahu saya, ketakwaan itu diukur dari keikhlasan, bukan dari berat timbangan daging yang kita bawa pulang lagi ke rumah,” sindir Wak Udin.

“Kalau semua bagian terbaiknya pak haji ambil lagi, itu namanya bukan berqurban untuk fakir miskin, tapi pak haji cuma titip potong daging gratis di Masjid, lalu dimakan sendiri, hahaha!”, canda Wak Udin sambil menutup mulutnya.

Haji Jaili tertegun, langsung batuk, “uhuk… uhuk…,Ya enggak semuanya diambill sih, Wak Udin. Ya… ya paling kulitnya buat keset rumah saya…”, ujarnya, menutup rasa malunya ngeloyor pergi.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ وَجَدَ سَعَةً وَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا

Artinya : Barangsiapa memiliki kemampuan tapi dia tidak melakukan ibadah kurban, maka janganlah dia mendekati masjid kami. (HR. Ahmad 2/321 dan Ibnu Mâjah)

Dialog di atas mungkin terdengar jenaka, namun menjadi tamparan sunyi bagi kita semua. Sering kali kita merasa sudah berqurban besar, padahal kita hanya sedang bertransaksi dengan Allah untuk mencari panggung pujian di mata manusia.

Idul Adha tahun ini, sekat-sekat sosial harus diruntuhkan, si kaya diajarkan untuk menyembelih sifat bakhilnya yang terselubung. Si miskin bisa tersenyum lebar menikmati daging qurban terbaik tanpa harus merasa minder.

Qurban momentum untuk peduli. Peduli menuju ketakwaan, peduli sesama, peduli hati dari penyakit bakhil. Peduli dari keangkuhan. Yok, periksa hewan qurban dan niat kita, apakah berqurban dengan jiwa Ibrahim dan anaknya Ismail, ikhlas lillahi ta’ala, atau justru berqurban penuh taktik, intrik, dan mencari cashback duniawi?

  • Penulis: Tauhid Ichyar, Ka.Kantor Perwakilan Laz Persis Sumut
  • Anggota Komisi Sosial dan Penanggulangan Bencana MUI Sumatera Utara.

Persatuan News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *