Sisi Politis Dibalik Wakaf Sumur Ruma : Negarawan Bernama Utsman Bin Affan

Bincang-bincang Abdul Aziz dengan Ketua Komisi A DPRD Sumut yang sekaligus sebagai Anggota Badan Anggaran (Banggar), Assoc. Prof. Dr. H. Usman Jakfar, Lc., M.A

Medan-persatuannews.com. Kita sering membaca kisah Sumur Ruma sebagai kisah dermawan. Padahal itu kisah negarawan. Kebijaksanaan Utsman bin Affan berpadu sempurna dengan visi kenegaraan Rasulullah ﷺ.

Melihat kondisi Indonesia hari ini yang tidak baik-baik saja, dimana dolar tembus Rp18.000, harga-harga mencekik, hajat dasar rakyat sulit…, wajar kita menengok ke belakang. Ke Madinah, 14 abad lalu, saat rakyat juga terhimpit kebutuhan dasar: air.

Berikut bincang-bincang kami dengan Ketua Komisi A DPRD Sumut yang sekaligus sebagai Anggota Badan Anggaran (Banggar), Assoc. Prof. Dr. H. Usman Jakfar, Lc., M.A:

AAZ: Assalamu’alaikum Assoc. Prof. Usman Jakfar. Sebagai anggota dewan yang mewakili rakyat Sumut, bagaimana kabar dan pandangan Bapak tentang tugas mengawal kepentingan rakyat hari ini?

UUJ: Wa’alaikumsalam. Alhamdulillah sehat. Masih istiqamah berdakwah dan berkhidmat di Dewan. Tapi jujur, beban makin berat. Rakyat makin sulit, sementara kebijakan negara sering jauh dari bumi.

AAZ: Kalau kita kembali ke masa Rasulullah ﷺ. Beliau melihat rakyat Madinah tercekik karena harus membeli air dari Sumur Ruma milik Yahudi. Harga mahal, antri panjang. Lalu Rasulullah perintahkan Utsman membeli sumur itu. Tanggapan Bapak sebagai negarawan?

Baca juga :

  1. Pesan KH Jeje Zaenudin di Muktamar XIV: Saatnya Pemuda PERSIS Tampil di Panggung Peradaban Dunia
  2. Transformasi Gerakan Jam’iyah: Sebuah Keniscayaan
  3. Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
  4. Dahsyatnya Pusaran Agin Puting Beliung dan Siklon Tropis

UUJ: Itu bukan sekadar sedekah. Itu kebijakan negara. Saya bedah 4 sisi politisnya:

1. NEGARAWAN = MENUTUP CELAH EKONOMI YANG DIPAKAI MUSUH
Sumur Ruma dikuasai Yahudi. Air = hajat dasar, hajat hidup orang banyak. Dia monopoli. Ini senjata ekonomi untuk melemahkan kaum muslimin dari dalam. Tanpa tetes darah, musuh bisa melumpuhkan umat.

Langkah Utsman: Negara hadir lewat tangan swasta yang berjiwa negara. Utsman membeli + menasionalisasi aset vital. Setelah dibeli, air digratiskan. Monopoli musuh runtuh. Rakyat lega.

Analisis hari ini: Kalau negara membiarkan pangan, energi, air, bahkan data dikuasai segelintir orang + asing, maka sama saja negara menyerahkan leher rakyat ke pisau pasar. Kedaulatan politik tanpa kedaulatan ekonomi = ilusi.

Abdul Aziz, ST, Pengamat Sosial Politik dan Pembina Yayasan Anugrah Hijau Indonesia-Ku

2. DIPLOMASI DENGAN DOMPET = SOFT POWER TANPA PERANG
Utsman tidak mengusir Yahudi dengan pedang. Beliau pakai negosiasi + harta. Hasilnya 3 pihak menang: Yahudi dapat ganti rugi, kaum muslimin dapat air gratis, Madinah stabil tanpa pertumpahan darah.

Analisis hari ini: Ini politik cerdas. Mengalahkan kepentingan yang merugikan rakyat tanpa melahirkan musuh baru. Menang tapi tetap beradab. Bukan “kita lawan mereka”, tapi “kita selesaikan masalah bersama”. Sayangnya hari ini kita sering ribut, tapi lupa menyelesaikan.

3. LEGITIMASI PEMERINTAHAN = RAKYAT PERCAYA KARENA MERASA DIURUS
Sebelum Sumur Ruma digratiskan, bisik rakyat: “Islam datang, tapi air tetap mahal dan susah”.
Setelah Utsman wakaf, ucapannya berubah: “Oh, negara Islam ini ngurusin perut kami juga”.

Analisis hari ini: Legitimasi pemerintah tidak lahir dari baliho dan jargon. Lahir dari bukti. Rakyat tidak butuh pidato panjang. Rakyat butuh 1 bukti: “Negara hadir saat aku haus, saat aku lapar, saat anakku sakit”. Kalau hajat dasar beres, kritik rakyat jadi nasihat. Kalau hajat dasar kacau, nasihat pun dianggap makar.

4. KETAHANAN EKONOMI DIBANGUN DENGAN WAKAF PRODUKTIF
Utsman tidak membagi 12 ribu dirham tunai ke fakir miskin. Itu habis sehari. Beliau ubah jadi aset produktif: Sumur. Hasilnya dinikmati umat turun-temurun sampai hari ini. Itu cikal bakal BUMD + Dana Abadi versi Nabi.

Analisis hari ini: السياسة هي الإصلاح – Politik itu isinya perbaikan, bukan nguras. Negara harus berhenti berpikir “bagi-bagi bansos habis”. Mulai berpikir “bangun aset produktif yang hasilnya untuk rakyat selamanya”. Bansos bikin rakyat bergantung. Aset produktif bikin rakyat berdaya.

AAZ: Pesan penutup untuk pemerintah hari ini, Prof?

UUJ: Zaman Nabi, pemerintah tidak menaikkan pajak untuk nutup kebutuhan rakyat. Malah menggerakkan orang kaya untuk menyelesaikan hajat orang banyak. Rakyat berterima kasih karena merasa diurus, bukan diperas.

Kalau hari ini pemerintah terus menambah beban: pajak naik, tarif naik, subsidi dicabut… sementara hajat dasar rakyat: air, pangan, energi, pendidikan, kesehatan tetap sulit, jangan salahkan rakyat kalau mereka bertindak dengan caranya sendiri.

Ingat pesan Buya Hamka: “Pemerintah yang baik itu seperti air. Tidak berisik, tapi semua makhluk butuh dan hidup karenanya.”

Sumur Ruma jadi bukti abadi: Negara hadir itu bukan lewat retorika di mimbar. Tapi lewat kebijakan yang membumi dan memihak rakyat kecil.

Demikian bincang kami dengan Assoc. Prof. Usman Jakfar di acara konsolidasi kader, di hotel Grandhika.

Pewarta: M.Ash-Shiddiqi
Editor: Abdul Aziz

Persatuan News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *