Saat Kondisi Turbulensi

Patut direnungi ucapan Umar bin Khattab r.a: “Kalau seekor keledai terpeleset di Irak, aku takut ditanya Allah: Kenapa tidak kau ratakan jalannya?”

Medan-persatuannews.com. Dalam dunia penerbangan, turbulensi adalah guncangan hebat yang sedang kita alami sekarang. Guncangan itu terjadi karena arus udara yang tidak beraturan.

Akibat turbulensi, terbentuk olakan. Olakan terjadi karena tabrakan antara udara yang bertekanan dan berkecepatan berbeda.

Turbulensi existing itu terkadang tidak bisa dihindari. Kondisi tersebut hanya dapat dikendalikan. Dan yang bisa mengendalikan cuma dua: pilot yang waras, serta penumpang yang kompak.

Patut direnungi ucapan Umar bin Khattab r.a: “Kalau seekor keledai terpeleset di Irak, aku takut ditanya Allah: Kenapa tidak kau ratakan jalannya?”

Baca juga :

  1. Pesan KH Jeje Zaenudin di Muktamar XIV: Saatnya Pemuda PERSIS Tampil di Panggung Peradaban Dunia
  2. Transformasi Gerakan Jam’iyah: Sebuah Keniscayaan
  3. Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
  4. Dahsyatnya Pusaran Agin Puting Beliung dan Siklon Tropis

Dalam konteks berbangsa dan bernegara hari ini, kondisinya tidak sedang baik-baik saja. Bayangkan 280 juta orang di dalam satu pesawat yang sedang terguncang hebat di udara, sementara pilotnya malah ugal-ugalan.

Turbulensi itu sejatinya ujian, bukan takdir.

Pesawat yang baik tidak akan jatuh karena kondisi atmosfer yang buruk. Pesawat jatuh karena:

  1. Pilot tidak kompeten: Pemimpin tidak paham penderitaan rakyat.
  2. Deteksi guncangan diabaikan: Dianggap “angin lalu”, “Emang gue pikirin”.
  3. Salah manuver: Seharusnya mengendalikan keadaan, malah ngegas. Abai terhadap peringatan, emoh terhadap kritikan.
  4. Pramugari sibuk jual parfum dan minyak jelantah: Penegak hukum dan pejabat malah cari untung di tengah guncangan.

Kondisi yang sedang kita rasakan saat ini adalah akibat hantaman dari segala arah. Apa saja itu?

  1. Kebijakan yang tidak berpihak: Tahu-tahu harga BBM naik diam-diam.
  2. Vonis hukum yang melukai rasa keadilan: Koruptor aset PTPN divonis bebas, rakyat kecil maling singkong dipenjara 3 bulan. Kok hukum tumpul ke atas, tajam ke bawah?
  3. UMKM megap-megap: Bahan baku naik, beras naik, minyak naik, kerjaan susah. Perut lapar adalah bentuk turbulensi lain.
  4. Hati-hati, bila perut rakyat lapar, ia punya caranya sendiri untuk “membuka pintu darurat”. Sementara yang nampak di mata pengambil keputusan hanya satu: pajak, pajak dari rakyat.

Maka turbulensi bermakna satu pesan keras: “Wahai pemimpin, kalian sedang membawa 280 juta nyawa. Jangan main HP di kokpit. Jangan jual onderdil pesawat. Fokus saja sampai ke landasan dan terminal yang dituju. Kalau pesawat ini jatuh, yang mati bukan hanya kalian. Anak cucu kami juga ikut terkubur.”

Amanah diatas awan, Rasulullah ﷺ bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” *

Pesawat boleh goyang, tapi jangan sampai jatuh karena kesombongan pilotnya. Karena di hari perhitungan nanti, Allah tidak akan tanya berapa tinggi pesawatmu terbang. Allah akan tanya: “Ke mana kau bawa 280 juta nyawa yang Kutitipkan di tanganmu?”

Wallahu a’lam bish-shawab.

  • Penulis : Abdul Aziz. Sekretaris Bidang Infokomdigi MUI Prov. Sumut.
  • Purna Tugas, Badan, Meteorologi, Klimatologi, Geofisika (BMKG)

Persatuan News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *