PW ISMI Jambi Siap Dilantik, PW ISMI Riau Terima Mandat ISMI Ekspansi ke Sumatera, Usung Melayu sebagai Mesin Penggerak Zaman

Selama ini masyarakat mengenal Melayu dari sisi simbol. Dari pakaian adat, pantun, upacara, gelar, hingga prosesi. Bagi ISMI Jambi, Melayu tidak boleh berhenti di simbol. Melayu harus masuk ke ruang ilmu, kampus, kebijakan publik, ekonomi, literasi, pendidikan, kebudayaan digital, dan pembangunan daerah.

Medan-persatuannews.com. Pengurus Besar Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (PB ISMI) terus melebarkan sayap ke seluruh nusantara. Usai melantik PW ISMI Jakarta Raya pada Sabtu, 14 Juni 2026, PB ISMI akan melantik PW ISMI Provinsi Jambi pada Jumat, 19 Juni 2026 di Rumah Dinas Gubernur Jambi. Bersamaan dengan itu, mandat pembentukan PW ISMI Provinsi Riau juga akan diserahkan.

Ketua Organisasi Kerjasama Hubungan Lembaga (OKHL) PB ISMI, Ade Darmawan, menegaskan persiapan pelantikan PW ISMI Jambi sudah final. “Komposisi kepengurusan sudah selesai disusun dan panitia pelaksana sudah ready. Tidak hanya pelantikan PW Jambi, pada acara itu kita juga akan menyerahkan mandat kepada PW ISMI Provinsi Riau. Bupati Kabupaten Siak, Ibu Afni Zulkifli, siap menjadi Ketua PW ISMI Provinsi Riau,” ujar Ade kepada wartawan, Rabu 17 Juni 2026.

ISMI Jambi: Melayu Bukan Sekadar Simbol, Tapi Mesin Peradaban
Menjelang pelantikan, nama ISMI mulai dikenal luas di publik Jambi. Organisasi ini menegaskan tidak ingin hadir sekadar sebagai forum kumpul sarjana. ISMI Jambi mengusung misi besar: menjadikan nilai Melayu sebagai sumber ilmu, adab, gagasan, dan kontribusi nyata untuk pembangunan daerah.

Selama ini masyarakat mengenal Melayu dari sisi simbol. Dari pakaian adat, pantun, upacara, gelar, hingga prosesi. Bagi ISMI Jambi, Melayu tidak boleh berhenti di simbol. Melayu harus masuk ke ruang ilmu, kampus, kebijakan publik, ekonomi, literasi, pendidikan, kebudayaan digital, dan pembangunan daerah.

Apa Itu ISMI
Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) adalah organisasi yang menghimpun cendekiawan, akademisi, profesional, birokrat, pengusaha, dan tokoh masyarakat Melayu dari berbagai disiplin ilmu. Didirikan pada 10 Januari 1986 di Medan, Sumatera Utara.

Baca juga :

  1. Pesan KH Jeje Zaenudin di Muktamar XIV: Saatnya Pemuda PERSIS Tampil di Panggung Peradaban Dunia
  2. Transformasi Gerakan Jam’iyah: Sebuah Keniscayaan
  3. Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
  4. Dahsyatnya Pusaran Agin Puting Beliung dan Siklon Tropis

Sejak berdiri, ISMI menjadi wadah sarjana Melayu lintas profesi: akademisi, birokrat, pengusaha, tokoh adat, aktivis sosial, profesional, hingga generasi muda terdidik. Mereka disatukan oleh satu semangat: ilmu pengetahuan harus bergerak menjadi manfaat.

Bagi ISMI, Melayu bukan hanya identitas masa lalu. Melayu adalah modal sosial masa depan. Di dalamnya ada adab, musyawarah, kesantunan, nilai keislaman, gotong royong, kemampuan berdagang, tradisi literasi, dan kecakapan membangun hubungan sosial. Nilai itu, jika digerakkan dengan ilmu, menjadi kekuatan besar menjawab tantangan zaman.

Ernawati: Kepemimpinan Perempuan Melayu di Garis Depan
Pada pelantikan 19 Juni mendatang, Hj. Ernawati, S.Ag., M.Pd. akan resmi dilantik sebagai Ketua Umum PW ISMI Jambi periode 2026–2030. Ernawati dikenal sebagai tokoh perempuan Melayu yang aktif di berbagai bidang. Ia memiliki latar birokrat, pengusaha, termasuk di bidang travel umrah, dengan jejak aktivitas hingga Arab Saudi. Dalam waktu dekat, Ernawati juga menyiapkan ikhtiar sosial-keagamaan melalui rencana pembangunan pondok pesantren di kawasan Pinang Merah.

ISMI Jambi Siap Hadir Sebagai Rumah Besar Gagasan Sarjana Melayu

Bagi ISMI Jambi, kehadiran Ernawati menjadi simbol penting. Bahwa perempuan Melayu tidak hanya hadir di ruang domestik. Perempuan Melayu juga bisa memimpin, menggerakkan organisasi, membangun usaha, memperkuat pendidikan, dan menghidupkan gerakan sosial.

“ISMI Jambi ingin hadir sebagai ruang pengabdian. Kita ingin sarjana Melayu tidak hanya dikenal dari gelarnya, tetapi dari gagasan, karya, dan manfaatnya untuk masyarakat,” ujar Ernawati. Menurutnya, adat dan ilmu harus berjalan bersama. “Kalau hanya adat tanpa ilmu, kita bisa tertinggal. Kalau hanya ilmu tanpa adab, kita bisa kehilangan arah. ISMI ingin mempertemukan keduanya,” tegasnya.

Ruang Ilmu, Adab, dan Pembangunan
Sekretaris ISMI Jambi, Dr. Fahmi Rasid, S.E., M.AP., menyebut pelantikan 19 Juni bukan garis akhir, melainkan pintu masuk untuk menggerakkan organisasi. ISMI Jambi ingin mengambil peran dalam isu strategis daerah: pendidikan, literasi, penguatan SDM, kebijakan publik, ekonomi masyarakat, hingga pelestarian budaya Melayu.

“ISMI harus menjadi ruang gagasan. Sarjana Melayu harus berani masuk ke isu publik. Pendidikan, ekonomi, budaya, digitalisasi, kebijakan daerah, semua membutuhkan kontribusi pemikiran,” kata Fahmi.

Fahmi menilai Jambi memiliki kekayaan adat dan sejarah Melayu yang besar. Namun kekayaan itu perlu diterjemahkan dalam kerja nyata yang relevan. “Kalau Melayu hanya dibicarakan di panggung adat, ruangnya akan sempit. Tapi kalau Melayu dibawa ke kampus, riset, UMKM, teknologi, media, dan kebijakan publik, maka Melayu akan hidup dalam peradaban modern,” ujarnya.

Pelantikan Bukan Sekadar Seremoni
Ketua Pelaksana Pelantikan, Prof. Dr. H. Syamsir, S.H., M.H., menegaskan pelantikan ini adalah momentum konsolidasi intelektual Melayu di Jambi. Tema “Berilmu, Beradat, Membangun Peradaban” menegaskan arah gerak ISMI. Ilmu menjadi dasar berpikir. Adat menjadi dasar bersikap. Peradaban menjadi tujuan pengabdian.

“ISMI Jambi ingin menegaskan bahwa sarjana Melayu harus hadir dengan ilmu dan adab. Ilmu tanpa adab bisa kehilangan marwah. Adab tanpa ilmu bisa tertinggal dari perubahan. Keduanya harus dipertemukan untuk membangun peradaban,” kata Prof. Syamsir.

Menurutnya, Jambi butuh lebih banyak ruang yang mempertemukan akademisi, pemerintah, tokoh adat, dunia usaha, dan masyarakat. “Pelantikan ini pintu masuk. Setelah itu, ISMI harus bekerja. Harus ada kajian, rekomendasi, kolaborasi, dan kontribusi nyata,” tegasnya.

Melayu Tidak Boleh Tertinggal di Era Digital
Humas PW ISMI Jambi sekaligus Tenaga Ahli Gubernur Jambi, Muawwin, S.Pd., M.M., mengatakan ISMI membawa pendekatan berbeda dalam melihat Melayu. Melayu bukan hanya warisan budaya, tapi juga kekuatan intelektual, ekonomi, bahasa, diplomasi, dan tata nilai sosial.

“ISMI ingin mengajak publik melihat Melayu bukan hanya sebagai masa lalu, tetapi sebagai modal masa depan. Tantangan terbesar hari ini adalah bagaimana menjaga identitas di tengah arus digital. Nilai Melayu harus masuk ke konten digital, pendidikan anak muda, literasi publik, ekonomi kreatif, UMKM, pariwisata budaya, dan kebijakan pembangunan,” ujar Muawwin.

“Kalau anak muda hanya mengenal Melayu dari pakaian adat, itu belum cukup. Mereka juga harus mengenal pemikiran Melayu, tokoh-tokohnya, nilai adabnya, sejarah dagangnya, tradisi ilmunya, dan kontribusinya untuk bangsa,” tambahnya.

Profil Singkat PB ISMI
Di tingkat pusat, PB ISMI periode 2025–2030 dipimpin oleh Nizhamul, S.E., M.M. sebagai Ketua Umum. Nizhamul dikenal membawa semangat konsolidasi sarjana Melayu lintas daerah. Posisi Sekretaris Jenderal dijabat Assoc. Prof. Dr. H. Yanhar Jamaluddin, M.AP., akademisi dan birokrat yang fokus pada tata kelola, kebijakan publik, dan penguatan SDM.

Kehadiran jajaran PB ISMI dalam pelantikan di Jambi diharapkan menjadi penguat semangat organisasi di daerah. Jambi menjadi bagian dari jaringan besar sarjana Melayu Indonesia.

ISMI Jambi ingin mengambil peran di ruang yang selama ini sering kosong: ruang antara adat dan kebijakan, ilmu dan pengabdian, kampus dan masyarakat, budaya dan ekonomi.

Di bawah kepemimpinan Hj. Ernawati, ISMI Jambi membuka pintu kolaborasi dengan pemerintah daerah, lembaga adat, kampus, dunia usaha, media, komunitas pemuda, pelaku UMKM, pesantren, dan lembaga pendidikan. Sebab membangun daerah tidak cukup dengan anggaran. Jambi juga butuh gagasan, adab, ilmu, dan orang yang mau bekerja untuk kepentingan publik.

Pelantikan ISMI Jambi pada 19 Juni 2026 di Rumah Dinas Gubernur Jambi menjadi awal pesan itu. Bahwa sarjana Melayu tidak cukup bangga pada identitas. Mereka harus hadir, berpikir, berkarya, dan memberi manfaat.

Pelantikan bukan garis akhir. Ia baru pintu masuk. Dari sana, ISMI Jambi ingin mengetuk ruang publik dengan pesan sederhana: Melayu bukan hanya untuk dikenang. Melayu harus bergerak.

Pewarta: M.Ash-Shiddiqy
Editor: Abdul Aziz

Persatuan News

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *