Medan-persatuannews.com. Hari-hari ini, langit perasaan kita sedang tidak satu warna. Ada hati yang bersyukur, ada pula hati yang galau. Ada yang bersyukur membaca kabar dari Kejari Jakarta Selatan yang tidak melakukan penahanan terhadap Roy Suryo dan dr. Tifa.
Bagi sebagian orang, ini dibaca sebagai wujud keadilan yang manusiawi. Kita ikut berdoa: semoga keadilan memang ditegakkan untuk semua lapisan, tanpa pandang bulu. Di sisi lain, ada yang galau. Anak-anak sekolah libur, dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak mengepul. Imbasnya, pundi-pundi tak mengalir ke rekening pengelola SPPG. Rencana harian meleset, kalkulasi bulanan goyah.
Di sinilah firman Allah SWT harus kita maknai ulang:
Pada QS. Al-Baqarah 2: 216
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”.
Allah punya skenario yang tidak masuk di spreadsheet kita. Yang kita sebut “libur dapur”, bisa jadi “jeda” agar sistem diperbaiki. Yang kita sebut “rekening seret”, bisa jadi “rem” agar hati tidak lalai.
Di titik inilah kita ditanya: tetap percaya, atau mulai menyalahkan keadaan?
Pada QS. Al-Baqarah 2: 155-156
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar…”
Baca juga :
- Pesan KH Jeje Zaenudin di Muktamar XIV: Saatnya Pemuda PERSIS Tampil di Panggung Peradaban Dunia
- Transformasi Gerakan Jam’iyah: Sebuah Keniscayaan
- Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
- Dahsyatnya Pusaran Agin Puting Beliung dan Siklon Tropis
Ujian itu bukan untuk menjatuhkan. Ujian itu agar kita kembali bersandar pada ketentuan-Nya. Mungkin Allah sedang menyelamatkanmu dari impian yang salah alamat. Atau menundanya agar kamu lebih siap. Jangan berhenti ikhtiar, tapi longgarkan genggaman.
Kita merancang, Allah menetapkan. Belokan hari ini bisa jadi jalan pintas menuju takdir yang lebih selamat. Tugas kita bukan memaksa peta, tapi membaca ulang kompas: ke mana Allah mau arahkan.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Madarijus Salikin menampar halus hati kita:
“Seandainya manusia tahu apa yang Allah simpan untuknya di balik musibah, pasti ia akan berharap semua hidupnya adalah musibah.”
Artinya: yang kita sebut “tidak sesuai harapan” itu sebenarnya “sedang diproses” jadi hadiah.
Di sinilah kritik atas program MBG menemukan konteksnya. Anggota DPD RI Habib Ali Alwi melontarkan kritik keras dalam rapat Komite IV DPD RI, Senin (23/6/’26). Ia menilai MBG bukan prioritas dibanding pemulihan pasca bencana di Sumbar, Sumut, dan Aceh.
Senada, Anggota Komite IV asal Sumut, Muhammad Nuh menegaskan, “Dengan dana sebesar ini, mestinya buat skala prioritas. Yang disuarakan MBG, tapi yang mengemuka bisnis.” Ia meminta pengawasan ketat dan pemetaan akurat agar dana dari rakyat benar-benar bermanfaat.
Niat pemerintah menghadirkan MBG tentu mulia, “melawan stunting dan menggerakkan ekonomi rakyat”. Kritik dari Senayan ini justru jadi pengingat agar niat baik itu dieksekusi dengan tepat, transparan, dan berkeadilan.
Maka wahai para pengelola MBG yang risau saat sekolah libur, “bersabarlah”. Dapur yang hari ini tidak mengepul, insyaAllah akan ngebul kembali pada waktunya. Selagi amanah dijaga dan komando “jalan terus”, tak perlu risau berlebihan. Rezeki sudah dijamin, keberkahan yang perlu dijemput.
Dan saat anak libur, harga kebutuhan sedikit melandai, itu juga skenario Allah. Dapur bisa mengepul dengan tenang. Itulah wajah syukur, tidak jumawa saat lapang, tidak hancur saat sempit.
Bisikkan ini ke hatimu saat rencana gagal:
“Ini bukan penolakan. Ini pengalihan ke jalan yang lebih selamat.”
“Aku tidak tahu akhir cerita. Tapi aku tahu siapa Penulisnya. Dan Penulisnya tidak pernah zalim.”
Wallahu a’lam bishawab.
- Penulis: Abdul Aziz
Sekretaris Bidang Infokomdigi MUI Sumatera Utara









