Medan-persatuannews.com. “Sobat, pernah dengar istilah Lipstick Effect?”. Istilah ini dicetuskan Leonard Lauder, mantan CEO Estée Lauder. Fenomena ini menggambarkan kecenderungan masyarakat menahan diri membeli barang mewah besar seperti mobil atau tas, tetapi tetap mengalokasikan uang untuk “kemewahan kecil” yang terjangkau. Mulai dari lipstik, parfum mini, skincare, kopi kekinian di kafe, hingga dessert viral. Tujuannya satu: self-reward atau pelarian emosional saat ekonomi sulit.
Pergeseran Pola Konsumsi Anak Muda Medan
Hal ini kami bincangkan dengan Diyanah Fatin, Mahasiswi Manajemen FEBI UINSU sekaligus Pimpinan Wilayah Pemudi Persatuan Islam Sumatera Utara Masa Jihad 2026-2029.
Menurut Fatin, di tengah kondisi ekonomi yang tidak stabil, masyarakat khususnya anak muda tetap berusaha memenuhi kebutuhan konsumtif. Contohnya membeli kopi, dessert viral, skincare, atau aksesori dengan harga yang masih masuk akal.
“Jika kita lihat di Kota Medan, tren ini cukup relevan. Coba tengok ramainya pusat perbelanjaan. Orang tetap membeli beauty products, pernak-pernik gantungan tas/HP, tumbler, dan kategori lainnya,” ujarnya.
“Menurut saya, lipstick effect di Medan bukan hanya soal perilaku konsumtif. Ini pergeseran pola konsumsi. Ada keseimbangan antara keterbatasan ekonomi dengan kebutuhan psikologis,” tambah Fatin.
Diakui Anggota DPRD Sumut: Kedai Kopi Tetap Ramai
Pengamatan serupa disampaikan Dr. Ahmad Darwis, Anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara. Saat bincang santai di Sulthan Kuphi, Jalan Ringroad, Ahad 28 Juni 2026, ia membenarkan gejala tersebut.
“Sepanjang yang saya amati, kedai atau warung Aceh selalu ramai pengunjung. Baik untuk makan bersama keluarga, maupun nongkrong dengan teman-teman. Secara keseluruhan daya beli masyarakat memang melemah, tapi minum kopi tetap jalan. Seperti kami ini,” ujar Ahmad Darwis sambil tertawa.
Secara psikologi, fenomena ini memang masuk akal. Di tengah inflasi dan tekanan hidup, otak kita butuh kebahagiaan instan yang tidak merusak tabungan secara drastis. Namun, jika dilakukan berulang dan tanpa kontrol, “kenikmatan kecil” ini bisa berubah jadi lubang besar di dompet.
Baca juga :
- Pesan KH Jeje Zaenudin di Muktamar XIV: Saatnya Pemuda PERSIS Tampil di Panggung Peradaban Dunia
- Transformasi Gerakan Jam’iyah: Sebuah Keniscayaan
- Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
- Dahsyatnya Pusaran Agin Puting Beliung dan Siklon Tropis
Ketika Pelarian Menjadi Cermin Krisis
Hari ini, fenomena itu terasa sangat Indonesia. Rupiah melemah, dolar melonjak, daya beli masyarakat turun. Di lapangan, petani menjerit karena harga pupuk dan hasil panen tidak seimbang. Buruh banyak yang di-PHK karena pabrik menekan biaya produksi. Di sisi lain, tunggakan iuran BPJS Kesehatan menumpuk dan belum kunjung lunas. Kebutuhan pokok saja sudah berat.
Namun anehnya, antrean kopi premium di kafe kota besar tetap panjang. Tiket konser tetap ludes. Skincare dan camilan kekinian tetap ramai di keranjang e-commerce.
Inilah wajah Lipstick Effect versi 2026: rakyat sedang menahan lapar yang besar, tapi tetap membeli “gula” yang kecil agar tidak gila.
Ini bukan soal menyalahkan siapa yang jajan kopi. Ini adalah tanda bahaya. Ketika masyarakat lebih memilih pelarian daripada perencanaan, dan ketika sistem gagal memberi rasa aman melalui BPJS yang lancar atau lapangan kerja yang stabil, maka lipstick effect bukan lagi gaya hidup. Ia berubah menjadi indikator cemas kolektif.
Karena itu, literasi keuangan hari ini harus lebih dari sekadar “jangan boros”. Kita perlu bertanya: Mengapa orang butuh pelarian? Apa yang salah dengan sistem yang membuat rakyat merasa harus “menghibur diri sendiri”, karena negara belum bisa memberi mereka rasa aman?

Penutup Refleksi
Lipstick effect mengingatkan kita: krisis ekonomi tidak selalu terlihat dari angka PHK atau inflasi. Kadang ia terlihat dari banyaknya orang yang membeli kebahagiaan kecil untuk menutupi luka yang besar.
Tugas kita bersama, baik sebagai individu, komunitas, maupun pembuat kebijakan, adalah memastikan rakyat tidak hanya bertahan dengan “lipstik”, tetapi juga punya akses pada kebutuhan pokok, kesehatan, dan masa depan yang layak. Karena secangkir kopi boleh menghangatkan hari, tapi tidak seharusnya menggantikan rasa aman seumur hidup.
Wawancara ringan Abdul Aziz bersama Fatin dan Ahmad Darwis
Pewarta: M.Ash-Shiddiqy
Editor: Abdul Aziz









