Medan-persatuannews.com. Suasana Warung wak Dollah pagi itu agak riuh, aroma bunga melati dan petrichor sisa hujan semalam bersatu di udara. Di pojokan cafe, ada Dadang yang sibuk mengaduk kopi hitam hangatnya, ada Arief dengan kopi susunya yang hobi gorengan, tahu, tempe dan ubi. Dan Narto yang tiba-tiba datang membawa tumbler berisi cairan berwarna hijau.
Arief yang sedang menikmati pisang goreng mandangin tumbler Narto, “Tok, apa tuh, bawa sirup pandan pagi-pagi? Biasanya pesan teh manis panas yang rasanya kaya sirup tebu di sini,” ujar Arief.
Sambil tersenyum, Narto membuka tutup tumbler, menghirup uapnya, “kalian ini agak visioner dikitlah dalam minuman pagi. Ini namanya “Teh Hijau”, makanya jangan pesan kopi dan teh manis saja. Biar kalian tau ya, ini minuman para Kaisar dizaman dinasti Ming, ramuan untuk umur panjang!,” sebut Narto serius.
Dadang melotot matanya, hampir tersedak gorengan bakwan “Hah? Teh Hijau? Itu kan teh yang belum dimasak ? dapat Dimana daunnya ?, metik di pagar rumah pak Kades?,” kata Dadang bercanda.
Sambil tertawa Narto berucap, “Sembarangan aja kau ini,! sinilah, biar ku ceritakan sejarahnya. Teh hijau ini asalnya dari Tiongkok, sekitar ribuan tahun lalu. Ceritanya, ada Kaisar namanya Shennong. Pas dia lagi merebus air di taman, eh ketiup angin, ada daun teh liar jatuh ke pancinya. Pas diminum, lho kok seger dan badannya enak. Nah, itu asal-muasalnya. Bukan daun pagar!, enak aja kau ini,” ujar Narto menjelaskan.
Baca juga :
- Darah Sebagai Amanah Dan Tanggungjawab Hidup
- Hari Lingkungan Hidup 2026 : KIH Sumut dan PLN Tanam 250 Pohon di Belawan Lawan Triple Plenatary Crisis
- Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
- Menjaga Bumi, Belajar dari Guru Rimba
“Oalah, ajaib…, ketiup angin, daunnya jadi minuman mahal ya. Tapi kenapa harus diminum pagi-pagi? Kan enakan kopi hitam biar mata melek, Tok?,” ujar Dadang.
“Nah, justru itu, Dang. Kebiasaan minum teh hijau tiap pagi itu ibarat kau ngasih informasi alarm pengingat ke lambung dan otak. Kopi kan kadang bikin jantung berdisko tuh, dag-dig-dug pagi-pagi. Kalau teh hijau ini mengandung kafein, tapi ada juga zat namanya L-theanine.”
“Zat apa pula itu, kayak tau aja kau ini?, kayak nama-nama para pelaku koruptor yang sedang ditangani KPK itu.”, ujar Arief.
“Mirip sih kinerjanya! L-theanine ini bikin kafeinnya rilis pelan-pelan. Jadi kau melek, fokus, tapi tetap santai kayak di pantai. Enggak panik kayak pas dikejar deadline atau pas setoran ngojek kau telat,” ujar Narto.
Dadang mulai tertarik, menggeser letak cangkir kopinya, “Trus, buat kesehatan apa pula baiknya? Jangan-jangan cuma tren orang-orang estetik di media sosial aja tuh.”
“ini beda” ujar Narto, “Wah, jangan salah. Pengaruhnya buat tubuh itu banyak kalipun. Di dalam teh hijau ini ada antioksidan kuat namanya katekin. Tugasnya apa? Dia berantem sama radikal bebas di badan kita. Ibaratnya, dia itu tim sapu bersih yang ngebersihin racun-racun sisa gorengan lu tuh, Ndi!”
Sambil melirik pisang gorengnya, “Sialan, goreng pisang, dan bakwan kesukaan kita kena sindir nih.”, ujar Arif melirik Narto.
“Hahaha! Selain itu, teh hijau bisa bantu ningkatkan metabolisme. Jadi bisa bantu membakar lemak juga, biar perut kita tak makin maju ke depan mendahului garis start. Plus, bagus buat kesehatan jantung dan bisa bikin kulit lebih seger. Makanya orang Jepang sama Tiongkok mukanya awet muda, rajin minum beginian!,” terang Narto lagi.
“Bisa bikin pinter gak ya, supaya nambah cerdas bisa menang lawan catur bang Khodir?,” kata Arief.
“Bisa, asalkan pas kau minum, kau baca buku catur, berdo’a, jangan sambil baca buka WA an gossip para cukong ngatur-ngatur negeri, ha..ha…ha.. !” tawa Narto.
Nyerah, melambaikan tangan ke Wak Dollah, “Wak doel! Apa sudah ada The Hijaunya ?, Tolong teh hijaunya satu… tapi gulanya tiga sendok makan ya!” “Yeee… itu namanya kau minum air gula rasa daun, lha podowaelah,” ujar Narto.
Suasana warung pun pecah oleh tawa mereka. Pagi itu, obrolan tentang Daun The Hijau hangat dari Tiongkok sukses membuat ketiga sahabat memulai hari dengan senyuman meski Dadang tetap tidak bisa lepas dari bakwan gorengnya.
- Penulis: Tauhid Ichyar, Pemerhati Lingkungan Sosial Masyarakat











![Pengurus Besar Ikatan Sarjana Melayu Indonesia [PB ISMI] kembali menggelar kegiatan sosial keagamaan](https://persatuannews.com/wp-content/uploads/2026/05/Pengurus-Besar-Ikatan-Sarjana-Melayu-Indonesia-PB-ISMI-kembali-menggelar-kegiatan-sosial-keagamaan-300x178.webp)