Medan-persatuannews.com. Biasa ba’da Ashar dihari Sabtu atau Ahad, Dadang, Arief dan Narto janji ketemuan ngobrol sambil minum teh Hijau Hangat atau Secangkir Kopi Pahit Hangat dengan seporsi ubi goreng, bakwan atau pisang goreng.
“Assalamaulaikum,” sapa Dadang kepada Arief dan Narto sore itu. “Waalaikumsalam”, jawab Narto dan Arief serentak. Ia berjalan santai, badannya sedikit berkeringat kena sinar matahari sore. Cuaca cepat sekali berubah, panas tiba-tiba hujan turun. Sambilan jalan nengok ke cangkir Arief dan Narto, “Tok, habis minum teh hijau tadi pagi, sore ini kenapa cangkir mu isinya cairan hitam pekat kayak oli gardan gitu?”ujar Dadang.
Sambil tersenyum tipis, menyeruput pelan, “Dang, ini namanya seni kehidupan. Setelah pagi ditenangkan oleh teh hijau, siang hari saat kantuk menyerang, kita butuh kejujuran dari secangkir kopi pahit hangat,” kata Narto tersenyum.
“Gaya kali si Narto! Pahit gitu kok dinikmati. Hidup udah susah, masa minumannya ditambah pahit juga?” kata Dadang, “Justru di situ filosofinya, Dang! Kopi hitam pahit itu jujur. Dia enggak pernah bohong pakai janji manisnya gula atau samaran gurihnya krimer. Dia pahit di awal, tapi bikin mata melek, fokus bangkit, dan siap menghadapi kenyataan sore ini. Lagian, kopi hitam tanpa gula itu bagus kali buat membakar kalori sisa bakwan yang disentap tadi pagi!”
“Aku lagi yang kena! Tapi benar juga ya, aroma kopi hitam sore-sore gini memang enggak ada lawan. Wak Doel! Kopi hitam satu, pahit…, jangan pakai janji manis!,” ujar Dadang.
Baca juga :
- Darah Sebagai Amanah Dan Tanggungjawab Hidup
- Hari Lingkungan Hidup 2026 : KIH Sumut dan PLN Tanam 250 Pohon di Belawan Lawan Triple Plenatary Crisis
- Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
- Menjaga Bumi, Belajar dari Guru Rimba
Pilihan yang berkelas! Setelah teh hijau yang menenangkan di pagi hari, Sore-sore begini memang paling pas nyerup secangkir kopi hitam pahit hangat biar mata kembali tegak lurus menatap masa depan.
Selamat menikmati kopi pahitnya! Semoga raga makin segar dan sisa hari Sabtu ini berjalan penuh produktivitas. Ada hal lain yang ingin kita obrolkan sambil ngopi sore ini? Ujar Arief.
Sore itu, begitu aroma kopi hitam pekat pesanan Dadang mengepul di meja, Dadang langsung mencondongkan badannya. Matanya berbinar, siap menguji pengetahuan Narto lagi.
“Kemaren tuh kau udah sukses cerita Kaisar Tiongkok ketiban daun teh nyemplung kepanci. Nah, sekarang mumpung kita lagi ngopi pahit hangat nih, coba kau ceritakan, siapa manusia pertama yang kurang kerjaan nyoba-nyoba minum biji gosong pahit begini?” ujar Dadang tersenyum.
“Sejarah kopi! ini lebih menari lagi, Dang. Kalau teh dimulai oleh seorang Kaisar, kopi ini justru dimulai oleh seorang gembala kambing yang kebingungan di daerah Etiopia, Afrika. Ya sekitar abad ke-9, namanya Kaldi.” Jelas Narto serius.
“Gembala kambing? Apa hubungannya, kambing sama kopi, Tok? Jangan bilang kambingnya pintar ngoseng-ngoseng biji kopi?,”ujar Dadang.

“begini, Dang dan kau Rief! Ceritanya si Kaldi ini lagi liat-liat kambing-kambing gembalaannya kok tiba-tiba lincah bener, lompat-lompat disko kayak habis denger musik koplo. Padahal biasanya kan cuma mengembik tiduran, males-malesan.” Kata Narto.
“Apa kambing-kambingnya kesurupan!,” ujar Arief . “Nah, si Kaldi juga mikir gitu awalnya. Pas diselidiki, ternyata kambing-kambing itu habis ngunyah buah beri merah dari semak liar”, sebut Narto.
Karena penasaran, si Kaldi ikutan memetik dan makan itu buah. Eh, keajaiban terjadi! Si Kaldi langsung ikutan seger, matanya melek, dan bawaannya kepengen ikut lompat-lompat bareng kambingnya!”
Ha..ha..ha…,”Dadang dan Arief, ketawa ngakak, “berarti penemu kopi pertama itu sebenarnya gerombolan kambing ya?, jadi kita ini cuma penikmat generasi penerus kambing Etiopia!” “Kira-kira begitu ceritanya, Dang!” kata Arief.
Tapi cerita belum selesai. Si Kaldi ini bawa buah ajaib itu ke seorang rahib di biara setempat. Pas dikasih tahu khasiatnya, si rahib malah ketakutan, disangka itu buah setan. Akhirnya, buah-buah itu dilemparlah ke dalam api unggun,” sambung Narto. “Wah, tamat dong sejarah kopinya?,” ujar Dadang.
“Justru di situ plot twist-nya! Pas buah-buah itu terbakar di dalam api, bijinya kan terpanggang tuh. Tiba-tiba… hmmm… keluar aroma harum luar biasa yang memenuhi seisi ruangan. Rahib-rahib yang tadinya ketakutan langsung pada ngumpul, hidungnya kembang-kempis kesedapan mencium aroma,” sebut Narto dengan semangat.
“Terus langsung diseduh?,” kata si Arief, “biji yang gosong tadi langsung diselamatkan dari api, terus ditaruh di mangkuk dan disiram air panas biar awet. Pas mereka minum air rendamannya…, lho, kok enak? Dan luar biasanya, para rahib jadi kuat terjaga semalaman buat beribadah tanpa ngantuk. Sejak saat itu, rahasia biji ajaib ini menyebar ke Arab, Yaman, sampai akhirnya mendunia, singgah di warung Wak Dul ini!,” ujar Narto bersemangat.
Dadang dan Arif mangut-mangut sambil ngeliatin cangkirnya, “Luar biasa ya…, berawal dari kambing disko, dilempar ke api, sekarang jadi minuman wajib orang kantoran biar enggak didepak bos pas rapat siang, ngilangi ngantuk,” sebut Arief.
Dadang sambil ngunyah ubi goreng, “Bener, Dang”. Hikmahnya, untung si Kaldi ngeliat kambing makan buah beri kopi. Coba kalau dia ngeliat kambing makan rumput teki, mungkin siang ini kita lagi nongkrong sambil ngunyah kompos, ha..ha..ha..!”
Warung teh Wak Dollah itu pun kembali dipenuhi tawa renyah mereka di tengah gumpalan awak berarak sore itu.
Hidup ini sudah penuh dengan deadline dan urusan serius, jadi sedikit candaan bareng sahabat, secangkir kopi hangat pahit, ibarat tombol refresh buat otak kita.
- Penulis: Tauhid Ichyar, Pemerhati Lingkungan Sosial Masyarakat







