Medan-persatuannews.com. Teriakan-teriakan marah terdengar di komplek Medis Palestina di Ramallah menyusul kematian anak bernama Walid Abu Sneineh yang ditembak oleh pasukan Israel di kamp pengungsi Qalandia, sebelah utara Yerusalem.
Satu lagi nama anak yang langitnya direnggut sebelum sempat ia menamai awan.
Dekonstruksi dan Rekonstruksi Narasi Palestina. Kita perlu memahami dengan utuh tentang dekonstruksi Palestina. Dalam pusaran narasi global yang seringkali dibentuk oleh kekuatan hegemoni, isu Palestina terjebak dalam bingkai sempit: retorika “dua negara”, konflik agama, atau perseteruan politik regional.
Padahal di balik setiap tembok beton, pos pemeriksaan, dan pengungsian paksa, ada manusia dengan nama, mimpi, dan hak yang terus diingkari (Dekonstruksi Palestina: Dr. Benny Triandi, Ratih Damayanti).
Suatu keniscayaan bagi kita untuk merekonstruksi pemahaman baru yang lebih objektif dan inklusif terhadap Palestina, tanah para nabi.
Kebiadaban yang Terus Berulang
Berapa banyak lagi aktivis kemanusiaan yang harus diculik? Berapa banyak lagi bantuan yang harus ditolak?
Sedikitnya, ratusan aktivis Global Sumud Flotilla (GSF) dari puluhan negara pernah ditahan oleh pasukan penjajah Israel, termasuk WNI yang ikut dalam misi kemanusiaan menembus blokade Gaza. Mereka datang membawa bantuan, namun disambut dengan penahanan, kekerasan, bahkan penyiksaan.
Ini bukan kejadian tunggal. Catatan kebiadaban terus bertambah,
Anak-anak dan warga sipil. Rumah sakit, sekolah PBB, dan kamp pengungsi menjadi target. Anak-anak kehilangan orang tua, kehilangan rumah, kehilangan masa depan.

Blokade dan kelaparan terstruktur.
Gaza dikepung. Bantuan kemanusiaan dipersulit. Air bersih, obat-obatan, dan makanan dijadikan alat untuk melumpuhkan. Penghancuran tempat ibadah dan warisan: Masjid, gereja, dan situs bersejarah diratakan. Upaya menghapus jejak peradaban.
Baca juga :
- Secangkir Kopi Pahit Hangat
- Hari Lingkungan Hidup 2026 : KIH Sumut dan PLN Tanam 250 Pohon di Belawan Lawan Triple Plenatary Crisis
- Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
- Zakat, Wakaf, Infak, Sedekah Dan Ekonomi Syariah Memberi Keadilan Sosial Kepada Umat
Kebiadaban ini tidak berjalan sendiri. Ada pasokan senjata, ada perlindungan politik di forum internasional, ada narasi yang membenarkan pembunuhan. Sekutu Israel menjadi bagian dari rantai agresi ini dengan terus memasok logistik perang dan memveto upaya perdamaian.
Al-Qur’an sudah jauh-jauh hari mengingatkan kita tentang watak para agresor yang melampaui batas:
1. Tentang berbuat kerusakan di muka bumi
“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdo’a lah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.
QS. Al-A’raf: 56
2. Tentang membunuh jiwa tanpa alasan yang benar
“Oleh karena itu kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, barangsiapa yang membunuh seorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua.
Barangsiapa memelihara kehidupan seorangmanusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia. Sesungghnya Rasul Kami telah datang kepada mereka dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas.Tetapi kemudian banyak diantara mereka setelah itu melampaui batas di bumi”. (QS. Al-Maidah: 32)
3. Tentang Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas
“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi janganlah kamu melampaui batas, Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah: 190)
4. Tentang pertolongan Allah bagi yang teraniaya
“Diizinkan berperang bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka dizalimi.
Dan sungguh, Allah Maha Kuasa menolong mereka itu.” (QS. Al-Hajj: 39)
Ayat-ayat ini mengingatkan kita: kezhaliman tidak akan abadi. Setiap tetes darah yang tertumpah, setiap tangis anak yang kehilangan langitnya, tercatat.
Pertanyaannya.
Sampai kapan kita diam melihat kebiadaban dan kebrutalan Israel dan sekutunya?
Sampai kapan bantuan kemanusiaan dianggap sebagai “kejahatan” dan penjajahan dianggap “membela diri”?
Mari kita tetap nyinyir terhadap isu Palestina.
Karena diam adalah bentuk lain dari persetujuan terhadap penjajahan.
“Ya Allah, lindungilah anak-anak Palestina. Sembuhkan yang luka, kuatkan yang lemah, dan binasakan para zhalim”.
- Penulis: Abdul Aziz
- Pengamat Sosial dan Lingkungan.







