Warung Kopi Wak Dollah: “Pemimpin Dambaan Umat”

"Nah, hari ini kita tidak membahas kopi," katanya. "Kita membahas sesuatu yang jauh lebih pahit apabila salah memilihnya."

Medan-persatuannews.com. Sore itu Warung Kopi Wak Dollah tampak lebih ramai dari biasanya. Aroma kopi hitam memenuhi ruangan sederhana yang menghadap ke jalan desa. Seusai salat Asar, beberapa jamaah pengajian duduk melingkar menikmati secangkir kopi dan pisang goreng hangat.

Pak Dermawan baru saja datang. Seperti biasa, senyumnya ramah. Ia duduk di bangku kayu yang sudah menjadi tempat favoritnya.

“Silakan, Pak Dermawan,” sapa Wak Dollah sambil meletakkan secangkir kopi. “Kopi pahit tanpa gula. Katanya biar hidup jangan ikut pahit.”

Semua yang hadir tertawa. Dadang langsung menyahut, “Kalau hidup sudah pahit, kopinya jangan ikut pahit, Wak.”

Tawa kembali pecah. Pak Dermawan ikut tersenyum.

“Nah, hari ini kita tidak membahas kopi,” katanya. “Kita membahas sesuatu yang jauh lebih pahit apabila salah memilihnya.”

“Apa itu, Pak?” tanya Narto.

“Pemimpin.”

Baca juga :

  1. Secangkir Kopi Pahit Hangat
  2. Hari Lingkungan Hidup 2026 : KIH Sumut dan PLN Tanam 250 Pohon di Belawan Lawan Triple Plenatary Crisis
  3. Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
  4. Zakat, Wakaf, Infak, Sedekah Dan Ekonomi Syariah Memberi Keadilan Sosial Kepada Umat

Warung yang semula riuh mendadak tenang. Arief menyeruput kopinya pelan.

“Kalau musim pemilihan, semua calon terlihat baik. Waktu sudah duduk di kursi, baru kelihatan aslinya.”

Pak Dermawan mengangguk.

“Itulah sebabnya Al-Qur’an tidak hanya mengajarkan kita memilih pemimpin, tetapi juga menjelaskan sifat pemimpin yang diridhai Allah.” Beliau kemudian membaca firman Allah:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisa’: 58).

“Nah,” kata Pak Dermawan, “ayat ini pendek, tetapi menjadi fondasi kepemimpinan. Ada dua kata penting: amanah dan adil.”

Dadang mengangkat tangan sambil tersenyum. “Pak, kalau ada pemimpin yang janjinya manis waktu kampanye, tetapi setelah terpilih rakyat malah dipersulit, masuk kategori amanah atau lupa ingatan?”

Semua tertawa. Pak Dermawan ikut tersenyum.

“Kalau lupa satu dua janji mungkin manusiawi. Tetapi kalau yang diingat hanya kepentingan diri sendiri, itu bukan lagi lupa, melainkan lupa bahwa jabatan adalah amanah.”

Wak Dollah menambahkan sambil menuang kopi.

“Makanya saya tidak pernah janji kopi gratis. Dari awal saya bilang bayar.” Warung kembali dipenuhi gelak tawa.

Pak Dermawan melanjutkan, “Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.’ Artinya, bukan hanya presiden, gubernur, atau bupati yang akan dimintai pertanggungjawaban. Seorang ayah, ketua RT, guru, bahkan pemimpin sebuah organisasi pun akan ditanya oleh Allah tentang amanah yang diembannya.”

Arief mengangguk pelan. “Berarti masalah bangsa sebenarnya bukan hanya mencari orang pintar.”

“Bukan,” jawab Pak Dermawan. “Bangsa ini lebih membutuhkan orang pintar yang amanah. Sebab kepintaran tanpa amanah bisa menjadi alat untuk menipu rakyat.”

Dadang tersenyum sambil menghabiskan kopinya.

“Pantas saja kata orang tua dulu, mencari istri jangan cuma yang cantik, mencari pemimpin jangan cuma yang pandai pidato.” Semua kembali tertawa.

Pak Dermawan menutup pembicaraan sore itu dengan sebuah kalimat yang membuat semua terdiam.

“Pemimpin yang dicintai rakyat bukanlah yang paling banyak janjinya, tetapi yang paling banyak memenuhi amanahnya. Sebab kekuasaan akan berakhir, tetapi pertanggungjawabannya di hadapan Allah tidak akan pernah berakhir.”

  • Penulis: Tauhid Ichyar, Pemerhati Lingkungan Sosial Masyarakat

Persatuan News

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed