Medan-persatuannews.com. Aroma kopi Sidikalang diwarung Wak Dollah mengepul segar. Dadang dan Narto sedang asyik menikmati gorengan, sementara Pak Dermawan sibuk membaca buku kecilnya di pojok meja. Tiba-tiba, Mbak Lastri datang membawa nampan berisi kue-kue basah untuk dititipkan di steling warung.
Dadang berbisik ke Narto sambil menyenggol lengannya, “Eh, Nar. Tengok tuh, Mbak Lastri makin hari makin glowing aja ya. Padahal statusnya udah single fighter.”
Setengah berteriak, “Wah, Mbak Lastri! Pagi-pagi udah bikin warung Wak Dollah makin cerah aja. Nggak capek Mbak, tiap hari bikin kue sendirian? Kalau butuh sandaran hidup, bilang ya!” Canda Narto ke Mbak Lastri.
Mbak Lastri tersenyum tenang sambil menata kue dadar gulung, “Halah, Mas Narto. Modus jalan terus, beli kuenya eggak. Sandaran hidup itu di sajadah, Mas, bukan di bahu pria yang hobi ngutang kopi.”
Wak Dollah tertawa lepas dari balik steling “Hahaha! Makanya Narto, kalau mau menggoda janda sekelas Lastri, modalnya jangan cuma kupon utang! Kena mental kau kan!”
Dadang ikut tertawa, “Tapi beneran Mbak Lastri, serius nih. Mbak kan masih muda, cantik, sukses lagi jualan kuenya. Apa nggak kesepian? Nggak niat nyari pengganti almarhum biar ada yang membahagiakan?”
Mbak Lastri menghela napas lembut, lalu duduk di kursi kosong dekat Pak Dermawan, “Mas Dadang, Mas Narto… dengar ya. Banyak orang mengira perempuan yang sendiri itu pasti malang dan tidak bahagia. Mereka pikir, kebahagiaan perempuan itu baru lengkap kalau ada laki-laki di sampingnya,” ujar mbak Lastri tersenyum.
“Lho, bukankah fitrahnya begitu, Mbak?,”ujar Narto ragu-ragu.
“Fitrahnya berpasangan itu betul, tapi menggantungkan ‘bahagia’ kepada manusia? Itu salah besar. Dulu, waktu almarhum suami saya meninggal, saya sempat hancur. Saya pikir kebahagiaan saya ikut terkubur bersamanya. Tapi di situ saya belajar…”
Pak Dermawan yang ikutan mendengar menyahut lembut, “Belajar apa, Mbak Lastri? Bagikan ilmunya pada anak-anak muda ini.”
“Saya belajar kalau bahagia itu bukan dicari dari orang lain, tapi diciptakan lewat syukur kita kepada Allah. Sejak saya berhenti berharap dibahagiakan makhluk, dan mulai bersyukur atas nafas, kesehatan, dan anak-anak yang ditinggalkan almarhum, di situlah rasa damai itu datang. Saya tidak butuh pria hanya untuk membuat saya ‘merasa’ bahagia. Saya sudah bahagia dengan apa yang Allah beri sekarang,” ujar Mbak Lastri tegas.
Mendengan jawaban Mbak Lastri Dadang tertegun, pelan-pelan meletakkan rempeyeknya) “Wah… mendalam kali ya.”
Baca juga :
- Secangkir Kopi Pahit Hangat
- Hari Lingkungan Hidup 2026 : KIH Sumut dan PLN Tanam 250 Pohon di Belawan Lawan Triple Plenatary Crisis
- Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
- Zakat, Wakaf, Infak, Sedekah Dan Ekonomi Syariah Memberi Keadilan Sosial Kepada Umat
Mbak Lastri kembali tersenyum agak usil dikit, “Lagipula, kalau saya nikah lagi cuma karena kesepian atau biar ada yang nafkahi, itu namanya egois. Pernikahan itu ibadah panjang lho mas. Kalau tujuannya cuma biar ‘dibahagiakan’, siap-siap aja kecewa. Karena manusia itu tempatnya khilaf. Ya kan, Pak Dermawan?”
Pak Dermawan mengangguk-angguk setuju, “Tepat sekali. Masya Allah, cerdas sekali cara pandangmu, Lastri. Anak-anakku, Dadang, Narto… dengar apa kata Mbak Lastri tadi.
Kebanyakan manusia gagal bahagia karena selalu meletakkan syarat kebahagiaannya pada hal-hal di luar dirinya. ‘Saya baru bahagia kalau punya mobil’, ‘Saya baru bahagia kalau punya rumah bagud, atau ‘Saya baru bahagia kalau punya jabatan’.”
Wak Dollah sambil mengantar teh manis hangat untuk Mbak Lastri, “Betul itu. Akhirnya, waktu mereka habis buat ngejar syarat-syarat itu. Pas udah dapat, eh ternyata hatinya tetap kosong. Kenapa? Karena lupa sama Zat Pemberi Rasa Bahagia,” titah wak Dollah serius.
Narto, hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Aduh, niatnya tadi pagi mau menggoda janda, kenapa malah kita yang kena khutbah ya? Tapi… mak jleb banget di hati, Mbak.”
Mbak Lastri tertawa renyah, “Makanya, Mas Narto, Mas Dadang. Daripada sibuk mikirin status saya, mending perbaiki kualitas diri. Kejar dulu ridha Allah, belajar bersyukur dari hal-hal kecil. Nanti kalau hati kalian sudah kaya dengan syukur, kebahagiaan itu bakal datang sendiri tanpa perlu dikejar-kejar.”
Dadang agak malu-malu, siap, Mbak! Paham kami sekarang. Eh tapi Mbak, ngomong-ngomong… dadar gulungnya gratis satu ya, bonus nasihat?”
Mbak Lastri, sambil berdiri dan mengambil nampan kosongnya, “Boleh, Mas Dadang. Nanti di akhirat saya tagih pahalanya ya. Mari, Pak Dermawan, Wak Dollah… Assalamualaikum!”
Semua: “Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.” Mbak Lastri melangkah pergi dengan anggun, meninggalkan Dadang, Arief dan Narto yang menatap meja dengan pandangan merenung.
- Penulis: Tauhid Ichyar, Pemerhati Lingkungan Sosial Masyarakat





