Warung Kopi Wak Dollah: Bagai menggenggam bara!

Rasulullah ﷺ bersabda, menjaga iman di akhir zaman itu rasanya seperti menggenggam bara api!". Wak Dollah yang sedang mengelap meja langsung menyahut, "Betul itu, Pak Dermawan! Dilepas padam, digenggam panasnya minta ampun!"

Uncategorized16 Dilihat

Medan-persatuannews.com. Sambil memegang segelas Teh hijau hangat, Pak Dermawan berdeham, memandang sekeliling meja warkop yang ramai sore itu. “Dadang… coba kau tengok kompor gas Wak Dollah itu,” buka dialog Pak Dermawan sore itu sambil menunjuk ke arah dapur warkop.

Dadang yang sedang asyik bermain ponsel langsung mendongak. “Kenapa rupanya, Abi? Masih hidup kok apinya,” sahut Dadang santai. Pak Dermawan tersenyum tipis. “Zaman sekarang ini, Dang… menjaga iman itu bukan lagi kayak menjaga api kompor gas yang tinggal diputar knopnya langsung menyala aman.

Rasulullah ﷺ bersabda, menjaga iman di akhir zaman itu rasanya seperti menggenggam bara api!”. Wak Dollah yang sedang mengelap meja langsung menyahut, “Betul itu, Pak Dermawan! Dilepas padam, digenggam panasnya minta ampun!”

“Nah, dengar itu, Dang!” lanjut Pak Dermawan dengan nada bercanda. “Makanya, kalau kamu digoda kawan-kawanmu buat ikutan bolos shalat, atau diajak sibuk main game sampai lupa waktu, itu sebenarnya tanganmu lagi mulai kepanasan memegang bara iman”.

“Jangan gara-gara panas sedikit, baranya langsung kamu lempar!”Ibu-ibu salehah yang duduk di sudut dekat Mbak Lastri kompak mengangguk-angguk sambil tersenyum.

Baca juga :

  1. Secangkir Kopi Pahit Hangat
  2. Hari Lingkungan Hidup 2026 : KIH Sumut dan PLN Tanam 250 Pohon di Belawan Lawan Triple Plenatary Crisis
  3. Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
  4. Zakat, Wakaf, Infak, Sedekah Dan Ekonomi Syariah Memberi Keadilan Sosial Kepada Umat

“Zaman sekarang, dunia bagai terbalik,” Pak Dermawan beralih memandang Arief dan Narto yang dari tadi serius menyimak.”Kita ini hidup di zaman yang serba terbalik. Yang jujur dibilang sok suci, yang menipu dibilang cerdik dan lihai. Iya kan, Narto? Arief?”. “Betul pak ,” sahut Narto sambil menggaruk kepalanya.

“Kadang kita mau lurus-lurus saja bekerja, malah dianggap aneh. ”Itulah pusaran fitnah akhir zaman,” sambung Pak Dermawan lembut. “Rasulullah ﷺ sudah mengingatkan dalam hadis riwayat Imam Muslim, “nanti akan ada masanya seseorang di pagi hari masih beriman, tapi sorenya sudah kafir. Atau sorenya beriman, paginya sudah menjual agamanya demi kesenangan dunia yang cuma seujung kuku ini”.

Mbak Lastri yang sedang menyajikan pisang goreng hangat ikut menimpali, “Aduh, ngeri x ya Bapak-bapak, ibu-ibu. Berarti kita harus sering-sering saling mengingatkan ya. Jangan sampai jempol kita aktif di media social, hanya ikut-ikutan menyebarkan fitnah”.

“Betul, Mbak Lastri! Pisang gorengnya hangat, nasihat Mbak Lastri juga menghangatkan jiwa,” canda Pak Dermawan yang langsung disambut tawa renyah seisi warung kopi, termasuk ibu-ibu salehah. Resep Istiqomah ala Pak Dermawan”.

Jadi, bagaimana caranya biar kita semua termasuk kamu Dadang, bisa tetap istiqomah di tengah badai fitnah akhir zaman ini?” Pak Dermawan mengangkat tiga jarinya, Jangan pernah bosan minta ampun (bertaubat).”

Istiqomah itu bukan berarti kita jadi malaikat yang tidak punya dosa. Kita ini manusia, bukan malaikat. Istiqomah itu artinya, setiap kali kamu tergelincir, cepat-cepat bangkit lagi. Jatuh, taubat lagi. Lalai, istighfar lagi. Jangan malah kebablasan!”. Carilah kawan yang saling menjaga. Bara api kalau sendirian diletakkan di tanah, pasti cepat padam. Tapi kalau dikumpulkan bersama bara-bara lainnya di dalam tungku, apinya akan tetap menyala merah dan saling menghangatkan”.

“Makanya, sering-sering main ke masjid, berkumpul sama orang saleh, atau minimal nongkrong sehat di Warkop Wak Dollah begini. “Perbanyak do’a peneguh hati. Ibu-ibu sekalian, Arief, Dadang, Wak Dollah… mari kita amalkan doa yang sering dibaca Nabi, “Wahai Dzat yang Maha membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.

Karena kalau Allah yang menjaga hati kita, sekencang apa pun angin fitnah bertiup, kita tidak akan pernah goyah.”Suasana Warkop Wak Dollah mendadak hening sejenak. Nasihat yang disampaikan dengan penuh canda dan senyuman itu ternyata masuk jauh ke lubuk hati setiap orang yang hadir.

Dadang perlahan memasukkan ponselnya ke dalam saku, menatap ayahnya dengan rasa takzim. Ibu-ibu salehah tampak mengusap sudut mata mereka, terharu sekaligus tersadar.”Nah, sekarang…” Pak Dermawan memecah keheningan dengan tawa khasnya,

“karena iman kita sudah disegarkan, bagaimana kalau the hijau dan pisang goreng saya pagi ini digratiskan Wak Dollah sebagai tanda istiqomah dalam bersedekah?. ”Ah, kalau itu namanya ujian istiqomah buat Warkop saya,” balas Wak Dollah, “canda aja pak Dollah,” ujar pak Dermawan, sambil tertawa lepas, diikuti gelak tawa riuh seluruh pengunjung warung kopi.

  • Penulis: Tauhid Ichyar, Pemerhati Lingkungan Sosial Masyarakat