MEDAN-persatuannews.com.Suasana di Warung Kopi Wak Dollah pagi ini belum ramai, tidak seperti Minggu pagi kemarin yang dipenuhi pejalan kaki seusai joging yang kelaparan dan ingin sarapan lontong Mbak Lastri.
Koran yang dipegang Pak Dermawan terbuka lebar-lebar di halaman depan, sementara layar ponsel Arief dan Dadang menayangkan berita kunjungan Wamen Pendidikan dan Ketum PP Persis di Sorkam Tapteng, serta berita-berita ter-update aksi demo warga yang menyuarakan berbagai keprihatinan rakyat kecil.
“Dadang, Arief, motivasi pagi ini,” mulailah harimu dengan meneguk secangkir kopi. Kopi pahit mengundang inspirasi dalam menapaki hari-harimu. Kopi pahit tidak mengumbar janji, ia katakan pahit ya pahit, ia tak berdusta mengatakan manis,” ujar Pak Dermawan mencandai Arief dan Dadang.”
“Iya juga ya, Rief, apa yang disampaikan Pak Wawan. Motivasi diri kopi pahit. Nih, lagi ramai sekali teman-teman yang turun ke jalan,” kata Dadang sambil mengaduk kopi hitamnya yang masih mengepul. “Menyuarakan berbagai problem keprihatinan rakyat. Tentunya rakyat butuh perhatian nyata dari pemerintah, bukan cuma janji-janji manis pas kampanye,” sambung Dadang lagi.
Arief mengangguk serius, meletakkan ponselnya di atas meja. “Betul, Dang. Aspirasi seperti ini yang harusnya didengar para petinggi negara. Wajar kalau rakyat menyampaikan suara keprihatinan negeri, wong urusan dapur sama perut ini nyata sehari-hari.”
Pak Dermawan menurunkan korannya sebentar lalu menyahut hangat, “Aspirasi rakyat itu murni, butuh solusi cepat dan kebijakan yang berpihak. Tapi di tingkat kita, yang penting kebersamaan jangan sampai goyah. Mbak Lastri, tambah lontong sama gorengannya ke semua meja! Biar yang diskusi punya energi hangat pagi ini.”
Baca juga :
- Secangkir Kopi Pahit Hangat
- Hari Lingkungan Hidup 2026 : KIH Sumut dan PLN Tanam 250 Pohon di Belawan Lawan Triple Plenatary Crisis
- Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
- Zakat, Wakaf, Infak, Sedekah Dan Ekonomi Syariah Memberi Keadilan Sosial Kepada Umat
Mbak Lastri tersenyum lebar sambil cekatan merapikan piring-piring gorengan. “Siap, Pak Dermawan! Bener kata Pak Dermawan, mau keadaan kayak apa juga, perut terisi dan kerukunan warga harus nomor satu.”
“Ingat,” sebut Pak Dermawan lagi. “Meminjam pesan sahabat saya pak Abdul Aziz, dalam hidup ini, tidak ada mimpi yang datang sendiri. Semua butuh peluh, butuh langkah, butuh perjuangan. Karena hari ini adalah lembaran baru. Selama matahari masih terbit, harapan masih hidup. Jalan menuju sukses itu berliku. Jatuh boleh, berhenti jangan. Yang membuat kita berharga bukan hanya hasil, tapi juga cara kita mendapatkannya.”
Wak Dollah yang sedang menyaring teh tarik ikut nimbrung dari balik kompor, “Wah, puitis kali Pak Dermawan ini. Betul itu. Pemerintah itu ibarat pengelola warung besar, rakyat itu pengunjungnya. Kalau pengunjung mengeluh kemahalan atau pelayanan kurang, ya wajib didengar dan diperbaiki, bukan dibiarkan.”
Udin yang duduk di dekat papan catur Narto langsung nyeletuk sambil mengacungkan pisang goreng, “Nah! Setuju sama Wak Dollah! Tapi kalau di warung ini, pengelolanya Wak Dollah, sponsornya Pak Dermawan. Jadi aman lah ya!”
Narto tertawa sambil mengetukkan biji bentengnya ke papan catur, “Hush, Udin! Fokusnya ke aspirasi rakyat, kamu malah fokus ke gratisan. Tapi bener kata semuanya, semoga suara masyarakat cepat direspons dengan tindakan nyata sama pemerintah, biar rakyat kecil bisa bernapas lega.”
Gelak tawa dan rasa saling peduli pun memenuhi Warung Kopi Wak Dollah, tempat di mana kepedulian pada nasib sesama dan kehangatan warga selalu menyatu dalam tiap seduhan kopi.
- Penulis : Tauhid Ichyar
- Pemerhati Lingkungan Sosial Masyarakat











