Warung Kopi Wak Dollah : “Falsafah 3 Jari Menunjuk Diri”

Wak Dollah tertawa kecil sambil mengelap tangannya dengan serbet. "Artinya, tiap kali kita menunjuk dan menyalahkan orang lain satu kali, ada tiga jari kita sendiri yang diam-diam menyalahkan diri kita. Ketika kita bilang orang lain kurang peduli, tiga jari ini menanya, 'Kamu sendiri sudah buat apa? Sudah turun tangan belum? Atau cuma pandai menunjuk?'"

Uncategorized29 Dilihat

MEDAN-persatuannews. Ahad pagi di Warung Kopi Wak Dollah selalu punya atmosfer khas, aroma sangrai kopi hitam bercampur asap gorengan hangat, diselingi gelak tawa dan perdebatan warga yang kerap kali berbobot… berat di omongannya saja, walau sepele permasalahannya.

Pagi itu, Pak Dermawan tokoh warga yang namanya sangat sakral namun dompetnya sering bocor untuk umat, sedang berdiri di tengah warung sambil bersedekap dada. Wajahnya ditekuk 45 derajat ke atas, menatap Dadang dan Narto yang sedang asyik main catur.

“Kalian ini ya! Anak muda bukannya produktif di hari Ahad, malah makin pagi makin numpuk di warung kopi. Lihat itu lingkungan RT kita, selokan mampet, sampah menumpuk. Kalian itu harusnya malu!” seru Pak Dermawan dengan nada membahana, seraya mengacungkan jari telunjuknya tepat ke hidung Dadang.

Dadang yang hampir saja memindahkan pion skakmat, mendadak terhenti. Narto hanya mesem-mesem sambil menyeruput kopi kintamani buatan Wak Dollah.

Mbak Lastri, yang dari tadi sibuk mengelap meja sambil membawa nampan berisi pisang goreng hangat, meletakkan piringnya di meja dengan dentingan lumayan keras.

“Duh, Pak Dermawan… pagi-pagi udah nge-gas aja. Suaranya bikin pisang goreng saya hampir lompat dari wajan,” celetuk Mbak Lastri sambil terkekeh”.

Baca juga :

  1. Secangkir Kopi Pahit Hangat
  2. Hari Lingkungan Hidup 2026 : KIH Sumut dan PLN Tanam 250 Pohon di Belawan Lawan Triple Plenatary Crisis
  3. Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
  4. Zakat, Wakaf, Infak, Sedekah Dan Ekonomi Syariah Memberi Keadilan Sosial Kepada Umat

Arief, yang sejak tadi menyimak dari pojokan sambil memangku laptop, tiba-tiba memotong. “Sabar, Mbak Lastri. Pak Dermawan kan lagi menjalankan fungsinya sebagai pengawas moral desa.”

“Bukan masalah moral, Rief!” pangkas Pak Dermawan masih dengan jemari teracung lurus ke arah Dadang. “Ini soal kepedulian! Kamu, Dang! Kamu, Nar! Kalian yang harus tanggung jawab!”

“Ooalaaah Wak Mawan, jangan terlalu peduli juga lah. Negara kita ini kaya lho, biarkan itu menjadi tugas Pemko, Lurah dan Kepala Lingkungan. Panggil orang-orang yang menganggur menjadi honorer, berdayakan. Mereka juga kan butuh kerja, berikan tugas untuk menangani kebersihan lingkungan. Dari pada APBN hanya jadi bancaan pejabat korup,” ujar Narto bersemangat.

“Ya betul tuh,” kata Narto. “Berdayakan Masyarakat, beri mereka pekerjaan, berikan honornya, mereka butuh makan untuk keluarga,” sambung Wak Dollah sambil menuangkan air panas ke dalam saringan kain hitam, perlahan berjalan menghampiri meja Pak Dermawan. Ia menatap telunjuk Pak Dermawan yang masih mantap menunjuk muka Dadang.

“Pak Dermawan…” panggil Wak Dollah lembut, khas suara tetua kampung yang kenyang makan garam. “Coba Pak Dermawan tahan posisi tangannya sebentar. Jangan diturunkan dulu.”

Pak Dermawan bingung, tapi tetap menahan tangannya yang menunjuk. “Kenapa, Wak? Buka jurus baru?,” Pak Dermawan keheranan.

Wak Dollah tersenyum tipis, lalu menunjuk ke arah telapak tangan Pak Dermawan. “Coba perhatikan baik-baik jari-jari sampeiyan pas lagi menunjuk Dadang. Telunjuk memang mengarah lurus ke depan, didampingi jempol yang ikut menunjuk ke depan…”

Pak Dermawan melirik tangannya sendiri. “…tapi coba lihat tiga jari sisanya jari tengah, jari manis, dan kelingking,” lanjut Wak Dollah tenang. “Tiga jari itu ditekuk, melipat, dan menunjuk tepat ke dada Pak Dermawan sendiri.”

Seketika warung kopi hening. Dadang yang tadinya mau protes langsung terdiam. Arief menurunkan layar laptopnya sedikit. Mbak Lastri menahan napas.

“Artinya apa, Pak?” tanya Narto polos.

Wak Dollah tertawa kecil sambil mengelap tangannya dengan serbet. “Artinya, tiap kali kita menunjuk dan menyalahkan orang lain satu kali, ada tiga jari kita sendiri yang diam-diam menyalahkan diri kita. Ketika kita bilang orang lain kurang peduli, tiga jari ini menanya, ‘Kamu sendiri sudah buat apa? Sudah turun tangan belum? Atau cuma pandai menunjuk?’”

Pak Dermawan perlahan-lahan menurunkan tangannya. Wajahnya yang tadi tegang mendadak agak merona merah.

Dadang langsung menyambar momen dengan cengiran khasnya. “Nah kan! Telunjuk nuding Dadang satu kali, tapi tiga jari Pak Dermawan nuding Pak Dermawan tiga kali! Berarti Pak Dermawan tiga kali lebih bersalah dari Dadang, ha..ha..ha…!”

“Huss! Ngawur kamu, Dang!” potong Mbak Lastri sambil tertawa. “Tapi bener kata Wak Dollah. Daripada nunjuk-nunjuk orang, mending Pak Dermawan borong pisang goreng saya.”

Arief menepuk tangan pelan. “Falsafah matematika jari yang sangat taktis dari Wak Dollah. Satu jari buat orang lain, tiga jari buat evaluasi diri sendiri. Ratio 1:3 untuk introspeksi.”

Pak Dermawan akhirnya tertawa pasrah, menyadari kesalahan kecilnya di Ahad pagi itu. Ia menghela napas lega, lalu merogoh kantong celananya.

“Ya sudah, ya sudah. Wak Dollah, kopi hitam satu lagi buat saya. Plus pisang goreng Mbak Lastri dua piring, bagikan ke Dadang, Narto, sama Arief!.”

“Nah, kalau gitu kan enak, Pak! Jari jempol buat Pak Dermawan!” seru Narto sambil mengacungkan dua jempolnya tinggi-tinggi, gotong royongnya biarkan menjadi tanggung jawab Pemko,” sebut Narto.

Pagi di Warung Kopi Wak Dollah pun kembali hangat, diiringi gelak tawa dan kepulan asap kopi yang membawa pesan sederhana, sebelum menyalahkan dunia di luar sana, tengoklah tiga jari yang selalu setia menunjuk ke dalam dada.

  • Penulis :Tauhid Ichyar
  • Pemerhati Lingkungan Sosial Masyarakat

Persatuan News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *