MEDAN-persatuannews.com. Asap tipis mengepul dari cangkir-cangkir seng bergambar bunga di atas meja kayu yang sudah mulai memudar. Aroma kopi bubuk yang diseduh air mendidih memenuhi ruangan Warung Kopi Wak Dollah. Seperti biasa, warung di sudut jalan itu bukan sekadar tempat melepas dahaga, melainkan “parlemen kecil” bagi warga sekitar.
“Kopi hitam satu, Wak! Gula dikit aja, biar nggak manis kali kayak janji pejabat,” seru Narto sambil menghempaskan tubuhnya ke bangku kayu. Pria yang sehari-hari menarik becak motor itu mengusap keringat di dahi.
“Siap, Tok! Dasar kau, tiap datang pasti ada saja celetukannya,” balas Wak Dollah dari balik meja racik. Tangannya dengan lincah menuang air panas dari teko tembaga yang legam.
Mbak Lastri, yang sedang duduk sambil menyusun kue basah dimeja, ikut tertawa kecil. “Lagi lesu ya, Narto? Dari tadi kulihat lalu-lalang tapi sepi penumpang.”
Baca juga :
- Secangkir Kopi Pahit Hangat
- Hari Lingkungan Hidup 2026 : KIH Sumut dan PLN Tanam 250 Pohon di Belawan Lawan Triple Plenatary Crisis
- Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
- Zakat, Wakaf, Infak, Sedekah Dan Ekonomi Syariah Memberi Keadilan Sosial Kepada Umat
“Bukan cuma lesu, Mbak Lastri, lesu darah sekalian,” sahut Narto. “Aneh betul negeri kita ini. Katanya tanah kita kaya, emas ada, kelapa sawit sejauh mata memandang, batu bara dikeruk tiap hari. Berbagai tambang ada, bahkan tambang emas, tapi kok kita yang di bawah ini cari uang makan sehari saja setengah mati?”
Ardi, mahasiswa tingkat akhir yang sedang membuka laptop tua di sudut meja, mengangkat kepalanya. “Nah, itu dia yang dinamakan Paradox of Plenty atau kutukan sumber daya alam, Bang Narto.”
Udien, buruh pabrik yang baru selesai shift malam, menyenggol lengan Arief. “Jangan pakai bahasa planet gtu lah bang Arief. Singkatnya gimana? Kenapa negara kaya tapi rakyatnya tetap gigit jari?”
“Gini, Dien,” jelas Arief sambil memperbaiki posisi kacamata. “Negeri kita memang kaya raya. Tapi masalahnya ada di pengelolaan dan keadilan distribution-nya. Kekayaan itu menumpuk di atas, cuma dinikmati segelintir orang. Ditambah lagi korupsi yang nggak habis-habis, dari tingkat atas sampai bawah. Jadi kekayaan alam itu bukannya jadi fasiltas umum atau kesejahteraan rakyat, tapi menguap jadi kantong pribadi.”
Darto, anak muda yang masih mencari kerja dan dari tadi sibuk mengulir layar ponselnya, menyahut, “Betul itu! Kemarin aku baca berita, ekspor hasil bumi tembus triliunan. Tapi pas aku melamar kerja di mana-mana, syaratnya makin rumit, gajinya malah tak sepadan. Rasanya kekayaan alam itu cuma ada di buku pelajaran, bukan di piring nasi kita.”
Suasana warung hening sejenak. Pertanyaan sederhana Ardi tadi menusuk ke relung hati masing-masing yang memang merasakan makin beratnya beban hidup.
Tak lama, Pak Dermawan masuk dengan senyum hangatnya. Pria setengah baya yang dikenal dermawan dan sering membantu warga yang kesusahan itu menyapa semua orang.
“Assalamu’alaikum, semuanya. Kok pada serius kali mukanya? Lagi bahas politik ya?” tebak Pak Dermawan sambil duduk di sebelah Wak Dollah.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Wak Dollah sambil meletakkan cangkir kopi pesanan Dadang. “Ini nah, anak-anak lagi mikir berat. Kenapa negeri kita yang katanya gemah ripah loh jinawi ini rakyatnya masih banyak yang susah.”
Pak Dermawan tersenyum tipis, mengangguk paham. Beliau menyeruput teh hangat yang disodorkan Wak Dollah sebelum berbicara.
“Pertanyaan kalian itu wajar,” ujar Pak Dermawan perlahan. “Sebab, kekayaan sebuah bangsa itu tidak cuma diukur dari apa yang ada di dalam tanahnya, tapi dari apa yang ada di dalam hati dan pikiran para pengelolanya. Kalau sumber daya alam melimpah tapi tidak diimbangi dengan integritas, kepedulian, dan kejujuran, maka kekayaan itu hanya akan jadi perebutan.”
Beliau memandang satu per satu wajah di ruangan itu.
“Tapi ingat,” lanjut Pak Dermawan, “kita tak boleh cuma meratapi keadaan atau menunggu bantuan turun dari langit. Di warung kopi ini, lihatlah… sahabat-sahabat kita, tetap bekerja keras menjeput rezeki, Mbak Lastri tetap menyajikan makanan halal, Bang Dadang jujur sebagai birokrat, Ardi belajar tinggi-tinggi, Udien tak menyerah cari peluang, dan Wak Dollah setia melayani kita semua.
Keadilan di tingkat atas mungkin belum sempurna, tapi rasa kebersamaan dan saling bantu di antara kita inilah yang bikin kita tetap bertahan.”
Pak Dermawan kemudian merogoh saku bajunya dan meletakkan beberapa lembar uang kertas di meja. “Wak Dollah, tolong hitung semua kopi dan kue yang dimakan adik-adik ini pagi ini. Saya yang bayar.”. “Wah, alhamdulillah! Terima kasih banyak, Pak Dermawan!” seru Udien dan Dadang kompak, seketika mencairkan suasana yang tadi tegang.
Wak Dollah tertawa terkekeh-kekeh sambil mengelap meja. “Nah, itu dia jawabannya. Negeri ini boleh saja penuh teka-teki, tapi selama di Warung Kopi Wak Dollah masih ada Pak Dermawan dan kebersamaan kalian, hidup yang berat ini setidaknya terasa sedikit lebih ringan!”
Canda tawa pun kembali pecah di warung kecil itu. Denting sendok mengaduk gula dan gelak tawa warga menjadi harmoni hangat di tengah riuhnya persoalan negeri.
- Penulis : Tauhid Ichyar
- Pemerhati Lingkungan Sosial Masyarakat











