MEDAN-persatuannews.com.Setiap manusia tentu pernah menghadapi masa-masa sulit. Ada saat ketika usaha belum membuahkan hasil, doa terasa belum menemukan jawaban, persoalan datang silih berganti, bahkan masa depan tampak penuh ketidakpastian.
Allah ﷻ berfirman :
اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰٓئِكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَـنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ
Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka meneguhkan pendirian, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka dengan berkata, ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan kepadamu.’”(QS. Fussilat 41: 30)
Pada saat seperti itu, yang paling berat bukan selalu persoalan yang kita hadapi, tetapi ketika harapan mulai hilang dari dalam hati. Islam mengajarkan kepada kita untuk tidak mudah kehilangan harapan.
Optimisme dalam Islam bukan berarti menganggap semua persoalan akan selesai dengan sendirinya. Optimisme adalah keyakinan bahwa selama kita masih bersama Allah, selalu ada jalan untuk berusaha, memperbaiki diri, dan bangkit dari keterpurukan.
Seorang Muslim berusaha dengan sungguh-sungguh, berdoa dengan penuh keyakinan, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah ﷻ. Karena manusia hanya mengetahui apa yang ada di hadapannya, sedangkan Allah mengetahui seluruh perjalanan hidupnya.
Allah ﷻ berfirman:
وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
Artinya : “Janganlah kamu bersikap lemah dan jangan pula bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang beriman.”(QS. Ali ‘Imran 3: 139)
Ayat ini bukan berarti seorang mukmin tidak boleh sedih. Manusia tetap memiliki hati. Rasulullah ﷺ pun pernah menangis ketika kehilangan orang yang beliau cintai. Yang dilarang adalah membiarkan kesedihan membuat kita menyerah kepada keadaan dan kehilangan kepercayaan kepada pertolongan Allah.
Baca juga :
- Secangkir Kopi Pahit Hangat
- Hari Lingkungan Hidup 2026 : KIH Sumut dan PLN Tanam 250 Pohon di Belawan Lawan Triple Plenatary Crisis
- Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
- Zakat, Wakaf, Infak, Sedekah Dan Ekonomi Syariah Memberi Keadilan Sosial Kepada Umat
Karena itu, optimisme seorang mukmin berbeda dengan optimisme yang hanya bersandar kepada kekuatan diri sendiri. Optimisme seorang Muslim berdiri di atas iman, ikhtiar, doa, sabar, dan tawakal.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ…
Artinya :“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya terdapat kebaikan. Bersungguh-sungguhlah dalam memperoleh apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau lemah…” (HR. Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).
Perhatikan pesan Rasulullah ﷺ: “Bersungguh-sungguhlah dalam memperoleh apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau lemah.” Inilah optimisme yang sesungguhnya.
Bukan hanya berkata, “Saya pasti berhasil,” tetapi berkata dalam hati,“Saya akan berusaha sebaik mungkin karena Allah, dan apa pun hasilnya, saya percaya Allah mengetahui apa yang terbaik bagi saya.”
Di zaman sekarang, sikap seperti ini sangat diperlukan. Kita hidup di tengah arus informasi yang begitu deras. Setiap hari kita melihat keberhasilan orang lain, kekayaan orang lain, perjalanan hidup orang lain, bahkan kebahagiaan yang ditampilkan melalui media sosial.
Tanpa disadari, seseorang dapat membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain. Akibatnya, ia merasa tertinggal, tidak berhasil, kurang beruntung, bahkan kehilangan rasa syukur.
Padahal apa yang terlihat di layar belum tentu menggambarkan seluruh kenyataan kehidupan seseorang. Jangan biarkan kehidupan orang lain merampas rasa syukur dan optimisme kita.
Allah telah menetapkan jalan kehidupan masing-masing. Ada yang diberi kelapangan lebih dahulu, ada yang harus melewati kesulitan. Ada yang berhasil di usia muda, ada pula yang baru menemukan keberhasilannya setelah melewati perjalanan panjang.
Yang terpenting bukan siapa yang paling cepat sampai, tetapi siapa yang tetap berjalan di jalan yang diridai Allah. Karena itu, jangan terlalu cepat mengatakan, “Saya sudah gagal.” Mungkin yang terjadi bukan kegagalan, tetapi Allah sedang mengajarkan kesabaran.
Jangan mengatakan, “Tidak ada lagi jalan.” Mungkin jalan yang kita cari belum terbuka, atau Allah sedang mengarahkan kita kepada jalan yang lebih baik.
Dan jangan mengatakan, “Allah tidak mendengar doa saya.” Teruslah berdoa. Sebab seorang mukmin tidak pernah benar-benar kehilangan sesuatu selama ia masih memiliki Allah.
Optimisme juga bukan berarti menutup mata terhadap kenyataan. Seorang Muslim tetap harus realistis, menghitung risiko, belajar dari kesalahan, memperbaiki strategi, dan berusaha mencari solusi.
Semoga Allah ﷻ menjadikan kita hamba-hamba yang optimis dalam menjalani kehidupan; kuat dalam menghadapi ujian; sabar ketika diuji; bersyukur ketika diberi nikmat; bersungguh-sungguh dalam berikhtiar; dan senantiasa bertawakal kepada-Nya.
- Penulis : Tauhid Ichyar
- Kapala Kantor PWK LAZ Persis Sumut. Anggota SOSBEN MUI Sumut






