MEDAN-persatuannews.com. Di Warung kopi Wak Dollah, aroma kopi hitam dan denting sendok mengadu gelas selalu jadi musik pengiring paling setia. Malam jelang 17-an ini, suasana sedikit beda, ada bendera Merah Putih kecil tertancap di atas toples kerupuk.
“Wak Dollah! Kopi satu, manisnya seperti janji pejabat pas kampanye ya!” celoteh Dadang sambil menggeser bangku kayu.
Wak Dollah cuma terkekeh sambil menuangkan air panas dari ceret seng yang sudah menghitam. “Janji manis mulu, Dang. Nanti kena gula darah baru tahu rasa kau!”
“Lah, biarin aja Wak! Daripada janji Kemerdekaan, Wak… Udah 81 tahun merdeka, yang benar-benar ‘bebas’ cuma harga cabai sama tarif air dan tarif listrik. Makin hari makin merdeka melesat ke atas!” timpal Narto dari pojok meja, disambut tawa riuh seisi warung kopi.
Malam semakin larut, tawa pelan-pelan mereda. Arief memandangi bendera plastik kecil di atas meja, lalu mengaduk kopinya yang tinggal separuh. Sementara bendera besar yang dipasang Wak Dollah diparkiran sepeda motor tak berkibar karena angin malam tak berdesir.
“Tapi jujur ya, Wak… kadang aku mikir,” ucap Dadang, suaranya mengecil, lenyap sudah nada bercandanya yang tadi. “Tiap 17-an kita pasang bendera paling tinggi. Tapi tiap tanggal tua, kepala kita yang merunduk paling rendah. Anak mau masuk sekolah mikir biaya, berobat mikir BPJS nunggak…, apa kita ini cuma merdeka di kalender, tapi masih ‘dijajah’ sama keadaan?”
Wak Dollah meletakkan lap kain di pundaknya, lalu duduk menyebelah di samping Narto. Ia menepuk bahu sahabat lamanya itu pelan.
“Narto…, merdekanya negara ini memang sudah selesai ditandatangani tahun ’45 dulu sama para pahlawan. Tapi merdekanya rakyat kecil seperti kita? Itu perjuangan yang belum selesai. Nyatanya, nyari kerja sekarang setengah mati. Anak-anak muda lulusan sarjana cuma bisa menanti, menanti yang tak pasti”.
Baca juga :
- Secangkir Kopi Pahit Hangat
- Hari Lingkungan Hidup 2026 : KIH Sumut dan PLN Tanam 250 Pohon di Belawan Lawan Triple Plenatary Crisis
- Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
- Zakat, Wakaf, Infak, Sedekah Dan Ekonomi Syariah Memberi Keadilan Sosial Kepada Umat
“Bahkan tetangga kita yang kemarin lolos P3K dan udah pakai seragam rapi itu…, bulannya jalan terus, tapi honornya tersendat-sendat bahkan ada yang dihentikan. Apa kita ini cuma merdeka di kalender, tapi masih ‘dijajah’ sama keadaan?,” kata Wak Dollah lembut.
Wak Dollah lalu tersenyum tipis, menunjuk gelas-gelas kopi di atas meja. “Tapi kau lihat warung kopi ini. Di luar sana mungkin kita masih harus babak belur nyari sesuap nasi. Tapi di meja ini, kau, aku, Narto, Arief, Mbak Lastri,… kita semua masih bisa tertawa bareng, masih bisa saling bantu pas ada yang kesusahan, dan masih bebas mengkritik tanpa takut”.
“Kemerdekaan bangsa mungkin belum sepenuhnya sampai ke dompet kita, Rief. Tapi setidaknya, kemerdekaan persahabatan dan cita rasa persaudaraan ini…, tidak akan ada yang bisa merampasnya dari kita,” sebut Wak Dollah semangat.
Dadang mengangguk pelan, menyulut rokok terakhirnya. “Betul kata Wak Dollah. Negara boleh merangkak belajar menyejahterakan rakyatnya, tapi di warung kopi ini, sudah Merdeka dan tetap Merdeka, saling merangkul dalam kebersamaan.”
“Ah, Wak Dollah ini! Kalau ngomong suka bikin mata basah!” celetuk Mbak Lastri sambil mengusap sudut matanya, berusaha mengembalikan suasana humorisnya. “Ya udah, karena kita sahabat sejati yang merdeka…, bukan berati kopi ini gratis kan, Wak?”
Wak Dollah langsung mengambil kembali lap kainnya. “Sembarangan kau nih…! Tapi sesekali bolehlah, apalagi ada pak Dermawan. Persahabatan memang merdeka, tapi warung kopi tetap ada kasirnya! Nah itu disana, bayarlah!”
Seketika tawa pecah kembali di warkop sederhana itu, hangat, jujur, dan penuh harapan di tengah riuk-pikuk 81 tahun Indonesia merdeka.
- Penulis : Tauhid Ichyar
- Pemerhati Lingkungan Sosial Masyarakat








![Pengurus Besar Ikatan Sarjana Melayu Indonesia [PB ISMI] kembali menggelar kegiatan sosial keagamaan](https://persatuannews.com/wp-content/uploads/2026/05/Pengurus-Besar-Ikatan-Sarjana-Melayu-Indonesia-PB-ISMI-kembali-menggelar-kegiatan-sosial-keagamaan-300x178.webp)


