MEDAN-persatuannews.com. Indonesia lahir dengan takdir geografis yang luar biasa. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, dua pertiga wilayah kita adalah lautan. Laut bukan sekadar bentangan air yang memisahkan pulau, melainkan urat nadi kehidupan, penggerak ekonomi, dan perekat persatuan bangsa.
Di tengah dinamika global, memperingati Hari Maritim Nasional adalah pengingat bahwa identitas kita sebagai bangsa maritim bukan masa lalu yang usang, melainkan kompas masa depan.
Sejarah mencatat dua peristiwa penting sebagai fondasi kesadaran maritim kita.
Pertama: 21 Agustus 1945. Empat hari setelah Proklamasi, para pelaut muda Indonesia merebut pangkalan dan armada Angkatan Laut Jepang di Surabaya. Ini bukan sekadar aksi militer. Ini adalah deklarasi pertama bahwa kedaulatan Indonesia tidak hanya di darat, tapi juga di laut.
Kedua: 23 September 1964. Presiden Soekarno menerbitkan SK Presiden No. 249 Tahun 1964 yang menetapkan Hari Maritim Nasional. Langkah ini menegaskan visi geopolitik: kejayaan Indonesia ditentukan oleh bagaimana kita mengelola laut.
Dua tanggal itu mengingatkan kita: maritim adalah tentang keberanian merebut, dan kebijaksanaan mengelola.
Tantangan Maritim di Era Global 2026
Menjadi bangsa maritim hari ini jauh lebih kompleks dari romantika kejayaan nenek moyang. Tantangannya bersifat global dan mendesak: Krisis Iklim dan Kenaikan Muka Air Laut.
Masyarakat pesisir di 17.000 pulau kita adalah garda terdepan. Abrasi, rob, dan cuaca ekstrem mengancam rumah, tambak, dan mata pencaharian jutaan nelayan.
- Pencemaran dan Sampah Plastik
Laut kita kini menampung 1,29 juta ton sampah plastik per tahun. Laut bukan lagi tempat mencari nafkah saja, tapi juga tempat kita membuang masalah. - Ekonomi Biru dan Perebutan Sumber Daya
Dunia berlomba menuju blue economy: energi angin laut, bioteknologi kelautan, perikanan berkelanjutan, dan jalur logistik global. Jika kita terlambat, laut yang kaya ini hanya akan jadi jalur lintas bagi kapal orang lain. - Ketahanan Pangan dan Energi
60% protein hewani masyarakat Indonesia berasal dari laut. Cadangan energi, mineral, hingga potensi karbon biru dari mangrove dan lamun juga ada di laut. Menjaga laut berarti menjaga perut dan masa depan energi bangsa.
Baca juga :
- Secangkir Kopi Pahit Hangat
- Hari Lingkungan Hidup 2026 : KIH Sumut dan PLN Tanam 250 Pohon di Belawan Lawan Triple Plenatary Crisis
- Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
- Zakat, Wakaf, Infak, Sedekah Dan Ekonomi Syariah Memberi Keadilan Sosial Kepada Umat
Selama ini laut sering kita perlakukan sebagai halaman belakang: tempat membuang limbah, tempat yang dilupakan setelah kapal berangkat. Padahal laut adalah halaman depan rumah kita.
Untuk itu diperlukan 3 sinergi besar :
- Pemerintah: Perkuat regulasi, data BMKG & maritim, serta penegakan hukum di laut.
- Akademisi dan Industri: Dorong riset, inovasi teknologi ramah laut, dan investasi pada ekonomi biru berkelanjutan.
- Masyarakat Pesisir: Jadikan nelayan dan komunitas adat sebagai penjaga laut, bukan korban pembangunan.
Laut yang sehat adalah syarat mutlak bagi Indonesia yang tangguh, berdaulat, dan sejahtera. Momentum Hari Maritim Nasional harus kita jadikan titik balik. Mari kita warisi semangat 21 Agustus 1945 dan visi 23 September 1964.
Jika nenek moyang kita menaklukkan laut dengan perahu dan keberanian, maka tugas kita hari ini adalah menaklukkan tantangan zaman dengan ilmu, kebijakan, dan kepedulian.
Karena menjaga laut, berarti menjaga masa depan bangsa. Dan masa depan bangsa, ada di cakrawala maritim Indonesia. Wallahu a’lam bishawab.
Penulis : Abdul Aziz
Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Belawan 2015-2018





