MEDAN-persatuannews.com. Suasana Warung Kopi Wak Dollah Sabtu pagi terasa berbeda. Aroma kopi hitam yang biasanya diiringi gelak tawa soal sepak bola, kini berganti nada tenang nan penuh empati. Sebuah kotak kardus bertuliskan “Dompet Kemanusiaan: Donasi Untuk Bencana Gempa NTT” terpajang anggun di dekat meja kasir.
Wak Dollah menuangkan kopi sanger panas ke cangkir Pak Dermawan. “Ini minum dulu, Pak Dermawan. Luar biasa gerak cepat tim bapak. Baru dengar berita gempa di Nusa Tenggara Timur kemarin, hari ini kotak donasi sudah siap di meja depan.”
Pak Dermawan tersenyum tipis sembari mengaduk kopinya. “Bencana di NTT itu duka kita semua, Wak. Jauh di mata, tapi dekat di hati. Kita yang di Medan ini memang terpisah pulau, tapi persaudaraan tak bersyarat batas wilayah.”
Mbak Lastri datang membawa piring berisi pisang goreng hangat, menyela ragu. “Pak, saya dengar di NTT banyak bangunan yang runtuh dan warga butuh tenda serta obat-obatan. Apa donasi pakaian bekas masih dibutuhkan?”
Arief, yang sejak tadi sibuk mengotak-atik ponselnya, menanggapi. “Hasil koordinasi saya dengan relawan di sana, Mbak Lastri, yang paling krusial sekarang itu selimut, obat-obatan, perlengkapan bayi, dan dana segar untuk logistik cepat. Pakaian layak pakai oke, tapi pengirimannya dari Medan harus efektif.”
Dadang menyandarkan badannya ke kursi kayu, wajahnya tampak berpikir keras. “Ngomong-ngomong soal bencana di NTT, saya jadi mikir kesiapan kota kita sendiri. Sumatera Utara ini kan juga rawan, ada Sesar Sumatra, Gunung Sinabung, sampai ancaman banjir Sumut, Medan khususnya, apalagi ini mulai masuk bulan Ber”.
Lanjut Dadang, “ Kemaren angin kencang di Jalan STM ujung Kanal Suka Maju, banyak korbannya. Untung LAZ Persis dan Lembaga lainnya cepat tanggap, langsung kirim bantuan. Jangan sampai Kita sibuk bantu luar daerah, kesiapsiagaan kita sendiri terabaikan.”
Baca juga :
- Secangkir Kopi Pahit Hangat
- Hari Lingkungan Hidup 2026 : KIH Sumut dan PLN Tanam 250 Pohon di Belawan Lawan Triple Plenatary Crisis
- Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
- Zakat, Wakaf, Infak, Sedekah Dan Ekonomi Syariah
Narto membetulkan posisi duduknya, menyetujui pernyataan Dadang. “Betul kata Dadang. Medan ini kalau hujan deras sebentar saja beberapa titik langsung genang. Kalau sampai ada gempa tektonik besar seperti di NTT, sistem mitigasi dan jalur evakuasi warga di lingkungan tempat tinggal kita sudah paham belum?”
Udien, yang dari tadi tenang menyeruput teh manisnya, akhirnya angkat bicara. “Justru momen solidaritas ini harus jadi cermin buat kita, kang Dadang, bang Narto. Dengan kita turun tangan bantu saudara di NTT, edukasi kesiapsiagaan bencana juga harus makin digencarkan di Medan. Pemko dan BPBD memang punya peran, tapi kepedulian tingkat RT/RW seperti di warung Wak Dollah ini pondasi utamanya. Gotong royong itu bentuk mitigasi paling nyata.”
“Setuju!” pangkas Wak Dollah sambil menepuk meja pelan. “Jadi, selain kita kumpul dana dan kirim doa untuk saudara-saudara kita di NTT, kita juga bikin warung ini jadi posko informasi kesiapsiagaan warga.”
Pak Dermawan tersenyum bangga melihat dinamika warga di depannya. “Alhamdulillah. Medan punya hati yang besar. Mari kita tuntaskan penggalangan dana beberapa hari ini untuk NTT, sekaligus kita jaga kedisiplinan dan kesiapan bencana di lingkungan kita sendiri.”
Mbak Lastri menyodorkan uang kertas pertama ke dalam kotak donasi. “Bismillah, semoga sedikit bantuan dari Medan ini bisa meringankan beban saudara-saudara kita di NTT.” Langkah Mbak Lastri langsung diikuti oleh Arief, Dadang, Narto, dan Udien secara bergantian.
- Penulis : Tauhid Ichyar
- Pemerhati Lingkungan Sosial Masyarakat





