Warung Wak Dollah : “Sinabung Lagi Batuk-Batuk Flu”

"Ini data BMKG dan PVMBG baru rilis. Gunung Sinabung tadi pagi meluncurkan kolom abu vulkanik setinggi 5.000 meter (5 km) di atas puncak! Status Gunung Sinabung masih berada di Luar Biasa / Level III (Siaga)."

MEDAN-persatuannews.com. Ahad pagi di kawasan Johor, Kota Medan, matahari baru saja mengintip malu-malu di balik awan tipis. Udara sejuk sehabis jogging di Taman Cadika masih menyisa di baju Pak Dermawan, Dadang, Udien, Narto, dan Arief. Seperti biasa, pelabuhan terakhir setelah membakar kalori bukanlah meja makan sehat, melainkan meja kayu Warung Wak Dollah yang bau aroma lontong sayur dan kopi saringnya sanggup meruntuhkan niat diet siapa pun.

“Wak Dollah! Kopi Ule Karee satu, teh manis panas empat, sama lontong sayur pakai bumbu kacang ekstra ya!” teriak Dadang sambil menarik kursi plastik berbunyi krieeek. Baru saja mereka menghempaskan badan, lantai warung terasa bergetar halus. Cangkir-cangkir seng di rak Wak Dollah berklintingan kecil. “Waduh, apo pulak itu? Gempa?” cetus Narto sambil memegang meja.

Wak Dollah yang lagi memegang centong kuah lontong cuma menggeleng santai. “Sinabung itu, To. Erupsi lagi pagi tadi. Kolom abunya katanya sampai berjam-jam naik ke atas. Bau belerangnya saja sampai terbawa angin ke Medan ini.”

Arief menyedot teh manisnya yang masih mengepul, lalu menyandar. “Nah, itu dia. Sinabung batuk sedikit saja, debunya sudah bikin seisi Kota Medan bersin. Aku kadang mikir, kita ini sebenarnya siap enggak sih kalau bencana yang lebih gede datang?”

Di meja kayu, Narto meletakkan ponselnya yang baru saja membunyikan notifikasi berita. “Bukan kaleng-kaleng erupsinya, Wak,” kata Narto sambil menunjukkan layar ponselnya. “Ini data BMKG dan PVMBG baru rilis. Gunung Sinabung tadi pagi meluncurkan kolom abu vulkanik setinggi 5.000 meter (5 km) di atas puncak! Status Gunung Sinabung masih berada di Luar Biasa / Level III (Siaga).”

“Tuh kan, 5 kilometer!” seru Udien. “Pantaslah abu tipisnya melayang sampai ke Medan, mana BMKG memperkirakan arah angin berembus ke utara dan timur laut.”

Pak Dermawan membetulkan letak kacamatanya. “Bukan cuma Sinabung, Dien. Kemarin aku baca rilis Prakiraan Cuaca BMKG Wilayah I Medan, minggu-minggu ini Kota Medan masuk fase puncak musim hujan. Ada potensi curah hujan tinggi disertai angin kencang dan petir. BMKG sudah kasih peringatan dini ‘Waspada Banjir dan Longsor’, tapi ya… itu tadi, masuk telinga kiri keluar telinga kanan.”

“Betul kata Pak Der,” sambung Arief. “BMKG itu tiap hari kasih data update lewat aplikasi dan media sosial: suhu, kelembapan, prakiraan gelombang laut, sampai jalur sebaran abu vulkanik. Datanya lengkap dan akurat. Yang jadi masalah itu action setelah baca datanya! BMKG bilang ‘Waspada Banjir’, kita malah sibuk nyari jas hujan pas air udah sedada.”

Baca juga :

  1. Secangkir Kopi Pahit Hangat
  2. Hari Lingkungan Hidup 2026 : KIH Sumut dan PLN Tanam 250 Pohon di Belawan Lawan Triple Plenatary Crisis
  3. Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
  4. Zakat, Wakaf, Infak, Sedekah Dan Ekonomi Syariah Memberi Keadilan Sosial Kepada Umat

Wak Dollah tertawa terkekeh sambil menyiram kuah lontong. “Data BMKG canggih, satelit ada di langit. Tapi parit Medan sumbatnya di bumi. Makanya BMKG kasih data, kita malah yumbatin parit!”

Pak Dermawan, yang paling sepuh di antara mereka, menyesap kopinya perlahan sebelum angkat bicara. “Siap? Hahaha… Arief, Arief. Jangankan erupsi gunung berapi atau banjir besar, hujan gerimis setengah jam di daerah Dr. Mansyur atau Kampung Lalang saja sudah bikin Medan berubah jadi ‘Venezia dari Sumatra’. Siap dari mananya?”

Udien melahap kerupuk merahnya sampai berbunyi kriuk. “Betul kata Pak Der! Pemerintah kita ini pandai kali kalau bikin simulasi di atas kertas. Banner ‘Medan Tanggap Bencana’ terpampang di mana-mana. Tapi begitu air sungai meluap, respon paling cepat ya cuma pembagian mi instan sama posko foto bersama pejabat.”

“Hus! Jangan gitu, Dien,” potong Dadang sambil tersenyum kelewat manis. “Itu namanya mitigasi berbasis kearifan lokal. Pejabat datang foto-foto kan buat ngasih semangat. Lagian masyarakat kita juga hebat kok, tingkat pasrahnya sudah level dewa.”

“Lho, kok pasrah dibilang hebat, Dang?” tanya Narto bingung. “Ya hebatlah!” jawab Dadang bersemangat. “Tengoklah tuh, parit depan rumah disumbat sampah plastik selapis semen. Begitu banjir datang masuk rumah, yang disalahkan siapa? ‘Sudah kehendak Yang Kuasa,’ katanya. Gusti Allah pula yang kena getahnya, padahal yang buang bungkus mi sama kasur rusak ke sungai ya tangan mereka sendiri!”

Gelak tawa meledak di meja mereka. Wak Dollah yang meletakkan piring lontong ikut menimpal, “Kalian bilang pemerintah enggak siap, masyarakat juga sama saja! Tiap tahun banjir, tiap tahun heboh, tapi parit di depan warungku ini kalau enggak kukeruk sendiri, isinya botol plastik sama pampers bekas semua. Kita ini hobi memelihara bencana, baru nanti menangis berjamaah.”

Arief manggut-manggut sambil mengunyah rendang. “Intinya simbiosis mutualisme ya Wak. Pemerintah gagah di teori dan anggaran mitigasi yang entah lari ke mana, masyarakatnya rajin bikin pemicu bencana lewat buang sampah sembarangan dan tebang pohon. Nanti kalau bencana betul-betul datang, kita saling tunjuk hidung di media sosial.”

Udien menepuk bahu Narto pelan. “Kesiapsiagaan terbaik kita ya ini: Banyak-banyak berdoa, amankan barang berharga ke atas lemari, dan jangan lupa simpan nomor telepon Wak Dollah supaya kalau kebanjiran, minimal pasokan lontong sayur kita tetap lancar!”

Tawa mereka kembali pecah mengalahkan riuk suara kendaraan di jalanan Medan, sementara dari kejauhan, abu tipis Sinabung perlahan melayang di langit pagi yang kian terang.

  • Penulis : Tauhid Ichyar
  • Pemerhati Lingkungan Sosial Masyarakat

Persatuan News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *