MEDAN-persatuannews.com. Android di genggaman kita. Google yang kita cari setiap hari. Teleskop yang memotret galaksi. Obat yang menyelamatkan nyawa.
Tahukah kita, 3 fondasi besar peradaban modern itu lahir dari pena 3 orang Muslim yang namanya hari ini sengaja dikaburkan? Inilah kisah tentang penghapusan sejarah terbesar abad pertengahan.
ZAMAN KEEMASAN: 800 – 1200 MASEHI
Antara abad 8 sampai 12 Masehi, dunia Islam mengalami “Golden Age”. Di Baghdad ada Baitul Hikmah – Rumah Kebijaksanaan. Di Cordoba, Toledo, Granada di Spanyol, ada perpustakaan dengan 400.000 naskah.
Saat Eropa masih gelap, para ilmuwan Muslim sudah bicara tentang aljabar, kedokteran, astronomi, optik, dan filsafat.
Tiga nama paling besar saat itu adalah:
- Al-Khwarizmi – Bapak Aljabar
- Ibnu Sina – Bapak Kedokteran Dunia
- Ibnu Al-Haitsam – Bapak Optik Modern
TIGA BAPAK YANG DUNIA BERHUTANG PADANYA
Pertama: Muhammad bin Musa Al-Khwarizmi ±780 – 850 M. Lahir di Khwarezm, Asia Tengah. Beliaulah yang memperkenalkan angka 0-9 dan sistem desimal ke dunia. Kitabnya Al-Kitab Al-Jabr wal-Muqabala melahirkan kata “Aljabar”.
Nama beliau “Al-Khwarizmi” kemudian dilatinisasi jadi “Algoritmi”, lalu jadi “Algoritma”. Hari ini semua coding, AI, HP android berjalan di atas “algoritma” beliau. Tapi berapa banyak yang tahu siapa Al-Khwarizmi?
Kedua: Abu Ali Ibnu Sina 980 – 1037 M
Lahir di Bukhara. Pada umur 18 tahun sudah mengobati Sultan. Mahakaryanya Al-Qanun fi at-Tibb atau The Canon of Medicine setebal 5 jilid.
Buku ini jadi buku teks wajib di universitas Eropa dan Timur Tengah selama 600 tahun. Eropa memanggilnya “Avicenna”. Ibnu Sina meletakkan dasar farmakologi, anatomi, dan diagnosis. Dialah Bapak Kedokteran Modern.
Baca juga :
- Secangkir Kopi Pahit Hangat
- Hari Lingkungan Hidup 2026 : KIH Sumut dan PLN Tanam 250 Pohon di Belawan Lawan Triple Plenatary Crisis
- Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
- Zakat, Wakaf, Infak, Sedekah Dan Ekonomi Syariah Memberi Keadilan Sosial Kepada Umat
Ketiga: Abu Ali Ibnu Al-Haitam 965 – 1040 M
Lahir di Basra. Orang pertama yang membuktikan secara ilmiah bahwa “mata melihat karena cahaya masuk ke mata, bukan keluar dari mata”.
Kitabnya Kitab Al-Manazir atau Book of Optics jadi dasar ilmu optik. Dari sinilah lahir kamera obscura, lensa, teleskop, mikroskop, sampai kamera HP kita. Eropa menyebutnya “Alhazen”.
TITIK KRUSIAL: “PETAKA BIRU” 1100 – 1500 MASEHI*
Lalu apa yang terjadi? Setelah Reconquista di Spanyol, kota Toledo, Cordoba, Granada jatuh ke tangan Kristen. Ribuan naskah Arab dikumpulkan.
Datanglah mahasiswa- mahasiswa Eropa ke sana untuk belajar bahasa Arab. Mereka menyalin, menerjemahkan naskah-naskah itu ke bahasa Latin. Gerakan ini disebut “Sekolah Penerjemah Toledo”.
Tujuannya baik : menyelamatkan ilmu. Tapi masalahnya dimulai 300 tahun kemudian saat mesin cetak ditemukan 1450 M.
Saat buku-buku itu dicetak massal di Eropa, nama penulis aslinya perlahan dihapus. Al-Khwarizmi jadi Algoritmi. Ibnu Sina jadi Avicenna. Ibnu Al-Haitam jadi Alhazen.
Nama-nama Arab diubah mirip nama Eropa. Sumbernya tidak dicantumkan. Narasi baru dibangun: “Renaisans lahir dari Yunani langsung ke Eropa”. Peran 500 tahun peradaban Islam sebagai “jembatan ilmu” dikecilkan di buku sejarah.Penghapusan nama bukan berarti penghapusan jasa.
Hari ini kita masih pakai:
1. Algoritma – dari Al-Khwarizmi. Tanpa beliau tidak ada komputer.
2. Kanon Kedokteran – dari Ibnu Sina. Dasar kurikulum kedokteran dunia.
3. Metode Ilmiah Optik – dari Ibnu Al-Haitam. Dasar semua alat optik modern.
Mereka tidak minta dipuja. Tapi mereka berhak disebut. Karena melupakan guru sama dengan pengkhianatan ilmu.
Sejarah bisa dibelokkan. Nama bisa diubah. Tapi karya tidak bisa berbohong. Ketika kita mengetik di Google, berobat ke dokter, atau memotret pakai HP, ingatlah: kita sedang memetik buah dari pohon yang ditanam oleh Al-Khwarizmi, Ibnu Sina, dan Ibnu Al-Haitam.
Sudah saatnya kita mengembalikan nama. Sudah saatnya generasi muda tahu: peradaban tidak dimulai dari nol di Eropa. Ada estafet panjang yang dimulai dari Baghdad, Cordoba, dan Basra.
Karena kebenaran, cepat atau lambat, akan menemukan jalannya pulang. Wallahu a’lam bishawab.
Oleh: Abdul Aziz
Sekretaris Bidang Informasi Komunikasi & Digital MUI Provinsi Sumut











