MEDAN-persatuannews.com. Aroma kopi Cangkir mengepul hangat. Di meja pojok, Dadang, Mbak Lastri, Pak Dermawan, Udien, Arief dan Narto sedang asyik memutar gelas kopi sambil mengamati koran sore.
“Mantap kali ah! Akhirnya Muktamar NU selesai juga,” buka Udien sembari meletakkan cangkirnya. Dari 5 Nama Calon Ketum PBNU yang diusulkan Peserta Muktamar Ke-35 NU terpilih Kapten barunya mantan seorang pelaut, pengusaha migas, cicit Mbah Hasyim lagi. Namanya KH Abdul Hakim Mahfudz, dipanggil Gus Kikin!”
Pak Dermawan membetulkan letaknya peci. “Itulah uniknya Ketua NU terpilih kali ini, Dien. Track record-nya lumayan komplet. Kaptennya tuh, santri iya, pelaut iya, pengusaha iya. Kalau bikin kartu nama, awak pikir butuh ukuran kalender meja biar muat semua CV nya.”
“Tapi awak salut,” sahut Dadang sambil menyendok selai srikaya. “14 tahun jadi Wakil Ketua PWNU Jatim beliau adem ayem aja, nggak bikin gaduh. Kalau politik nasional, 14 tahun itu cukup buat bikin partai, pindah partai, terus balik lagi ke partai lama!,” ujar Dadang lagi.
Baca juga :
- Secangkir Kopi Pahit Hangat
- Hari Lingkungan Hidup 2026 : KIH Sumut dan PLN Tanam 250 Pohon di Belawan Lawan Triple Plenatary Crisis
- Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
- Zakat, Wakaf, Infak, Sedekah Dan Ekonomi Syariah
“Eh tahu juga mbak Lastri, baca berita juga ya..” ujar Pak Dermawan. “alah Pak Dermawan ni, pikirnya cuman dia aja yang ngikuti berbagai informasi,” sebut Mbak Lastri lagi.
Wak Dollah terkekeh mendengar jawaban Mabak Lastri. “Itu strategi pelaut, Mbak. Sudah biasa diterjang ombak samudra, bukan cuma ombak di kolom komentar. Lagian dia tuh Alumnus Universitas Terbuka, paham betul cara komunikasi tanpa perlu koar-koar,” Jelas Wak Dollah sambil bawa nampan berisi teh hijau.
Pak Dermawan mengelus janggutnya pelan. “Tapi ingat…,pesan beliau jelas: NU harus kembali ke Qanun Asasi. Sederhananya, NU jangan sampai terlalu sibuk ‘bertamu’ dan menginap di rumah kekuasaan sampai lupa jalan pulang ke rumah sendiri. Apalagi beliau bawa agenda ekonomi santri, UMKM warga Nahdliyin harus hidup.”
Dadang yang melintas membawa dengan gelas kopinya menimpal, “Betul itu Wak Dol! Jangan sampai kaptennya sudah jelas, tapi masih ada penumpangnya di geladak malah sibuk tanya-tanya, ‘siap gak ya kaptennya’, seperti pengen juga ikutan pegang setir. Itu sangat berbahaya bagi penumpangnya, bisa-bisa bukannya sampai tujuan, malah satu kapal bisa mabuk laut!”
“Congratulition Gus Kiki”, ujar pengopi, teh hijau bersama yang lainnya semoga Allah SWT menolongmu dalam menakhodai Kapal besar NU.
- Penulis : Tauhid Ichyar
- Pemerhati Lingkungan Sosial Masyarakat








