Medan-persatuannews.com. Sejarah menunjukkan bahwa banyak peradaban besar runtuh bukan hanya karena perang, tetapi juga karena kerusakan lingkungan. Ketika sumber air habis, tanah menjadi tandus, hutan musnah, dan ekosistem rusak, maka kehidupan manusia ikut terancam.
Allah ﷻ berfirman :
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا
Artinya :”Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf 7:56)
Sungguh, dalam beberapa dekade terakhir, dunia menghadapi berbagai bencana alam. Gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor, kekeringan panjang, kebakaran hutan, serta cuaca ekstrem telah menimbulkan kerugian besar bagi umat manusia.
Indonesia sebagai negara yang berada di kawasan cincin api Pasifik (Ring of Fire) terlalu sering mengalami berbagai ancaman bencana. Sebagaimana kita ketahui bencana alam bukan semata-mata fenomena alam, bencana alam berkaitan erat dengan perilaku manusia.
Masih anyar terjadi peristiwa bencana, pada Selasa (16/6/’26) pagi, gempa M 6,7 di Tenggara Palu. Berdasarkan laporan BMKG, gempa terjadi pada pukul 10.27 WIB atau 11.27 Wita dengan magnitudo (M) 6,7. Episenter gempa berada pada koordinat 1,03 LS dan 120,24 BT atau sekitar 42 kilometer tenggara Kota Palu dengan kedalaman 10 kilometer.
Sementara Gunung Semeru di Jawa Timur kembali erupsi pada Selasa (23/6/2026) pagi. Berdasarkan laporan Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Semeru, erupsi terjadi pada pukul 05.30 WIB dengan tinggi kolom abu teramati sekitar 1.200 meter di atas puncak atau sekitar 4.876 meter di atas permukaan laut.
Dihari yang sama Gunung Merapi di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah memuntahkan awan panas guguran (APG) pada Selasa (23/6/2026) pagi. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat awan panas guguran terjadi pada pukul 06.04 WIB.
Allah ﷻ berfirman:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ ٤١
Artinya : Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. Ar-Rum 30:41)
Letusan gunung berapi merupakan bagian dari dinamika bumi yang telah berlangsung sejak jutaan tahun lalu. Tsunami dapat dipicu oleh gempa bawah laut atau longsoran dasar laut. Meski demikian, tidak semua bencana murni disebabkan oleh proses alam.
Banyak bencana yang diperparah oleh aktivitas manusia, seperti, penebangan hutan secara berlebihan, pembuangan sampah ke sungai, eksploitasi tambang tanpa reklamasi, pembakaran hutan, pembangunan yang mengabaikan tata ruang lingkungan atau emisi gas rumah kaca yang memicu perubahan iklim.
Allah ﷻ berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ
Artinya : “Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.” (QS. Al-Baqarah 2:155)
Bencana dapat menjadi ujian bagi orang-orang beriman, peringatan agar manusia kembali kepada Allah, akibat dari kelalaian manusia sendiri. Hanya Allah yang mengetahui hikmah di balik setiap peristiwa. Sejarah menunjukkan bahwa banyak peradaban besar runtuh bukan hanya karena perang, tetapi juga karena kerusakan lingkungan.
Ketika sumber air habis, tanah menjadi tandus, hutan musnah, dan ekosistem rusak, maka kehidupan manusia ikut terancam. Pertumbuhan penduduk dan pencemaran sumber air menyebabkan jutaan manusia kesulitan mendapatkan air bersih.
Baca juga :
- Darah Sebagai Amanah Dan Tanggungjawab Hidup
- Hari Lingkungan Hidup 2026 : KIH Sumut dan PLN Tanam 250 Pohon di Belawan Lawan Triple Plenatary Crisis
- Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
- Menjaga Bumi, Belajar dari Guru Rimba
Hutan memiliki manfaat yang baik bagi kehidupan makhluk hidup, hutan sebagai pemberi oksigen dan juga penyerap karbon dioksida sudah memberikan manfaat bagi kelangsungan hidup manusia dan juga lingkungan. Namun saat ini, sudah tidak dipungkiri lagi, kerusakan hutan menjadi suatu permasalahan yang sangat memprihatinkan, bagaimana tidak, hutan saat ini sudah banyak yang beralih fungsi sehingga akan mengancam kelangsungan manusia dan juga lingkungan.
Eksploitasi sumber daya berlebihan. Pertambangan dan eksploitasi sumber daya tanpa pengelolaan yang baik dapat meninggalkan kerusakan yang berlangsung puluhan bahkan ratusan tahun.
Bencana kekeringan bisa terjadi karena kerusakan hutan. Saat pohon jumlahnya hanya sedikit, air yang diserap pun hanya sedikit. Sehingga air tanah juga menjadi sedikit. Air tanah yang sedikit bisa menyebabkan alam terkena bencana kekeringan.
Sesungguhnya, jauh sebelum konsep pembangunan berkelanjutan dikenal dunia modern, Islam telah mengajarkan prinsip keseimbangan. Dalam Islam, keseimbangan alam (disebut mizan) adalah prinsip ilahiah mendasari penciptaan alam semesta. Alam diciptakan dalam harmoni yang sempurna dan terukur. Manusia memegang peran sebagai khalifah (pemimpin) yang diamanahi untuk menjaga kelestarian bumi, bukan untuk mengeksploitasi dan merusaknya
Allah berfirman:
وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ أَلَّا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ
Artinya : “Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan keseimbangan, agar kamu jangan merusak keseimbangan itu.” (QS. Ar-Rahman 55:7–8)
Keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian alam, keseimbangan antara keuntungan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan, keseimbangan antara kebutuhan generasi sekarang dan generasi mendatang. Islam dan sains sama-sama mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan alam. Sains menjelaskan sebab-sebab terjadinya kerusakan lingkungan, sementara Islam memberikan landasan moral dan spiritual agar manusia tidak melampaui batas dalam memanfaatkan bumi.
Sesungguhnya masa depan peradaban manusia sangat bergantung pada kemampuan kita menjaga amanah Allah berupa bumi dan seluruh isinya. Jika manusia sebagai khalifah terus merusak alam, maka generasi mendatang akan mewarisi berbagai krisis yang semakin berat.
Sebaliknya, jika manusia mampu mengelola alam dengan bijaksana, maka bumi akan tetap menjadi tempat yang layak bagi kehidupan dan kemaslahatan umat manusia.
- Penulis: Tauhid Ichyar, Ka.Kantor Perwakilan Laz Persis Sumut
- Anggota Komisi Sosial dan Kebencanaan MUI Sumatera Utara.









